TUHAN DI UJUNG LUKA

Herman Siem
Chapter #5

YANG MENGEJUTKAN

Langit sangat cerah, padahal masih terasa pagi, angin masih terasa sejuk seraya bebas bermain mengajak menari setiap rimbunan dedaunan pepohonan. Sekumpulan awan putih turut andil dengan datangnya pagi cerah walau terlihat sinar terik matahari mulai menyelinap masuk menerangi semesta.

Jalan ibukota berangsur mulai ramai kendaraan di awali dengan suara klakson saling terdengar di setiap sudut jalan. Di belakang mistar garis putih, mobil dan motor berhenti tertata rapi menunggu lampu merah sejenak berganti dengan lampu hijau.

Tentunya setiap penghela napas di jagat muka bumi ini dengan sepagi itu mulai bergeliat berlomba mencari rupiah untuk menyambung hidup. Bila Tuhan sudah memberikan jalan, sudah memberikan masing-masing garis perjalanan kehidupan pada manusia yang semestinya tak selalu berpangku hanya tangan berdiam diri.

Gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi, seraya sedang berlomba menunjukan arogansinya siapa pemilik gedung tertinggi dan siapa orang terkaya di jagat muka bumi ini. Namun pemilik gedung tertinggi dan siapa yang terkaya di jagat muka bumi ini, kesemua itu tak berarti, karena di mata Tuhan semua adalah sama.

Motor jadul bergaya vintage sepagi itu sudah berjalan, namun tiba-tiba mengeluarkan asap hitam dari knalpot. "Bletub. Tub. Tub." suaranya nyaris seperti kentut yang keluar dari bokong bawah bikin terasa nyaman setelah mengeluarkan angin bau tak sedap itu.

"Akh! Kebiasaan nih. Belum sampe kantor, udah mogok lagi!" gerutu cowok tampan sembari menoleh kebawah samping kanan motornya, benar saja knalpotnya mengeluarkan asap hitam dan mesin motor mati.

"Kesiangan deh sampe kantor!" lagi gerutunya sembari dua matanya jelas melihat arloji sederhana sudah menunjukan pukul 7. 49, tandanya sebentar lagi jam kantor bakalan dimulai. Masih penasaran, dua matanya kembali melihat arloji sederhana yang melilit di lengan kanannya, mau mastiin dan benar jika sudah kesiangan.

"Brugg!" baru saja kaki kanannya naik menyilang akan turun dari motor, yang mengejutkan malahan motor di tabrak dari belakang oleh satu mobil mewah eropa.

"Akh! Heii, loe nggak lihat apa?! Nih motor lagi mogok, berhenti di sini bukan di situ?! Malahan loe tabrak!" gusar Natal menuding pengendara mobil sembari telunjuknya menunjuk tepian jalan dan tengah jalan makin banyak lalu-lalang pengemudi kendaraan memperhatikannya.

"Bug! Bug!" di ketuknya kaca mobil pintu samping kiri depan. Tapi pemilik mobil itu justru masih duduk ketakutan, kayak takut ia tidak mau turun bertanggung jawab.

"Woii! Turun loe, tanggung jawab dong! Jangan diam aja di situ! Takut loe?!" gusar juga Natal, mendekatkan mulutnya pada kaca mobil sekilas terduduk seorang gadis tidak berani melihat padanya.

Namun gadis itu jelas melihatnya dari dalam mobil, gadis itu justru terperangah dan terkesima melihat ketampanan wajah pemilik motor jadul bergaya vintage itu. Karena waktu sudah siang, Natal seperti tidak peduli. Ia malahan mendorong motornya, karena di pikirnya kantor tempat bekerja sudah tidak jauh lagi.

Jahilnya gadis dalam mobil yang menabrak motornya, ia malahan mengambil gambar video Natal dari dalam mobil, sedang mendorong motor dengan kamera ponselnya. Gadis itu tersenyum dan sejenak menatap kalung Rosario berbandul Salip putih, terlilit tergantung di batang spion tengah sebagai acesoris mobil.

***

Lihat selengkapnya