TUHAN DI UJUNG LUKA

Herman Siem
Chapter #6

UCAPAN BERDUKA CITA

Pagi sudah berganti dengan siang yang pasti akan membawa harapan bagi penggeliat pencari rezeki. Tuhan akan selalu memberikan dan membuka jalan bagi siapa saja yang memiliki keinginan kuat untuk merubah nasib.

Semilir angin dingin mulai tergantikan dengan angin terasa kering, raut wajah semakin bebas di gelayuti peluh sekujur tubuhnya sudah lepek keringat menyerap pakaian dan tembus sampai kejaket. Lumayan cukup jauh Natal mendorong motornya baru saja masuk keparkiran perkantoran besar dan sudah di sambut dua satpam tahu siapa cowok berwajah tampan itu.

"Pagi pak. Kami atas nama jajaran pengamanan gedung perkantoran ini, mengucapkan turut berduka cita," salam hangat dan ucapan duka dari satu satpam seraya memberi hormat dan satu satpam lagi sudah tahu jika motor itu memang selalu mogok dan segera di dorongnya.

Wajah Natal mendongak, dua matanya menatap langit cerah sembari menghirup udara panjang untuk menggantikan oksigen yang hilang tergantikan dengan peluh keringat. Perlahan lalu di hembuskan keluar mulutnya dan sepertinya napasnya tidak lagi tersengal-sengal.

"Makasih pak," sahut Natal sembari berikan helm dan mengangguk pada satu satpam tersenyum lebar.

Sembari berjalan ia melepaskan jaket yang sudah lepek basah, terlihat dari belakang kemeja warna cremnya sudah tembus keringat saat dua kakinya menaiki undakan anak tangga menuju loby.

Dari kejauhan masuk mobil mewah yang tadi di jalan sempat menabrak motor milik anak pemilik perkantoran besar dan mewah. Dari dalam mobil, seorang gadis tidak lantas segera turun, wajahnya melongok menyamping perhatikan dari balik kaca, cukup besar dan mewah bangunan perkantoran. Pintu terbuka, lalu dua kakinya turun menyamping menyentuh lantai aspal.

Pastinya cukup mahal sepatu hak tinggi yang di kenakan sebagai alas dua kakinya, lihat saja kukunya pasti terawat dengan treatment yang sangat mahal. Dua belahan kakinya sangat putih mulus, lalu sudah turun seorang gadis mengenakan setelan blazer warna peach dengan tali tas menyelempangkan warna merah tua menyilamg depan perut langsingnya.

Satu satpam menghampiri gadis itu sembari menutup pintu mobil. "Brugg."

"Selamat siang mbak?" salam dan tanya satpam pada gadis itu sejenak ia terdiam menoleh kesamping bemper depan mobilnya memang rada baret lecet, bekas nabrak motor.

"Siang pak," sahut nadanya sopan. Lalu gadis itu kembali perhatikan bangunan perkantoran besar dan mewah itu.

"Pak, saya ada interview. Hemm, dengan Pak Natal?" __ "Ohh, Pak Natal. Silahkan. Nanti mbak langsung keresepsionis saja. Bilang saja, mbak sudah ada janji dengan Pak Natal," lagi sahut gadis itu tersenyum dan di jawab oleh satpam persilahkan.

Mungkin saja gadis itu akan mengalami hal yang tak terduga, di mana seorang yang akan mengiterviewnya adalah orang yang telah di tabrak motornya. Gadis itu berjalan menaiki undakan anak tangga menuju loby untuk menemui resepsionis.

***

Lihat selengkapnya