TUHAN DI UJUNG LUKA

Herman Siem
Chapter #7

SUKA TAPI RAGU

"Silahkan duduk," Natal rada canggung persilahkan duduk, calon sekretarisnya tertegun diam masih berdiri sejenak menatap wajah ketampanan yang kali ini jelas dekat di lihatnya.

"Silahkan duduk," lagi persilahkan duduk, tersenyum geli menahan tawa malahan Natal duduk saja duluan seraya cuek dengan calon sekretarisnya masih saja melihatnya.

"Iya, iya pak," jawabnya juga jadi ikut-ikutan canggung, tapi masih lagi melihat menatap wajah cowok tampan yang akan menginterviewnya.

Gadis itu tidak tahu dan baru menyadari, bila motor yang di tabraknya adalah pemiliknya cowok yang kali ini akan menginterviewnya.

Jadi salah tingkah dan merasa bersalah, tapi gadis yang bakalan jadi calon sekretaris tidak mau mengakuinya jika tadi di jalan ia sempat menabrak motor milik cowok tampan yang kali ini sudah duduk berhadapan dengannya.

"Semoga nih cowok nggak tahu, kalau gua yang nabrak motornya," gumamnya dalam hati, tapi dua matanya malahan tidak bergeming menatap cowok tampan sudah membuka cv miliknya.

"Agusta Wirawan? Lulusan S1 sekretaris, lulusan lokal dari universitas swasta terkenal. Terus S2 kamu melanjutkan public speaking, ngambilnya jauh juga sampai kenegeri kangguru. So far, kamu masuk kriteria yang saya cari. Saya nggak banyak tanya, semua yang saya cari sudah ada padamu," tidak banyak bicara, tidak banyak bertanya lalu melipat map warna merah muda.

"Sudah pak interviewnya?" __ "Sudah, kamu saya terima kerja di sini. Berapa gaji yang kamu minta? Kapan kamu mulai masuk kerja?" Agusta bertanya singkat, tapi di jawabnya singkat padat juga oleh Natal.

Natal tersenyum sejenak menatap raut wajah gadis yang singkat di interviewnya, tapi tidak dengan gadis itu malahan bingung dan canggung. Sesaat ia tidak menjawab, malahan lagi-lagi kembali terkesima menatap wajah tampan cowok yang duduk di hadapannya.

"Kok, gua jadi ngerasa bersalah aja nih. Apa dia tahu ya, gua yang nabrak motornya? Gampang bangat masuk kerja di perusahan segede ini?" gumamnya dalam hati sembari nyengir padahal hatinya ketar-ketir.

"Agusta?" __ "Hemm, iya. Iya pak. Kalau masalah budget, gaji saya? Saya ikutin standar perusahan ini saja,pak. Terus, kapan saya mulai bekerja. Besok? Besok saya bisa mulai kerja, pak." Natal bertanya seraya memanggil namun jawabannya Agusta bikin membuatnya geli dan tersenyum sembari menoleh perhatikan kalender meja yang ada di meja samping kanannya.

"Besok?" balik tanya lagi sembari nyengir tahan tawa.

Lalu Natal putarkan kalender meja kemudian di tunjukan pada Agusta sontak tersenyum malu menahan tawa saat melihat kalender meja. "Besok Sabtu ya, pak? Kantor libur?" jawabnya sembari nyengir malu.

Agusta makin bingung dan seperti ada sesuatu yang ingin di sampaikannya. Tapi bikinnya jadi salah tingkah dan terasa ada beban dalam hatinya. Sampai ia beranjak bangun, mungkin tidak menyadari kalau salah tingkahnya sampai duduk di kursi sebelahnya.

Lihat selengkapnya