Sejak tadi masih belajar, sampai belum sempat makan. Padahal rasa lapar sejak tadi sudah memanggil, tapi di tahannya. Benar, jika seorang ibu telah tiada, pastinya rumah akan berantakan dan rasa lapar pada setiap perut hanya di biarkan saja. Tidak ada perhatian seorang ibu lagi, tentu membuat semuanya akan terlena terbuai akan kesibukan, yang pasti berkepanjangan untuk melakukan hal yang seharusnya di lakukannya.
Bram sejak tadi fokus belajar, padahal perutnya sejak dari pagi belum terisi. Hanya cemilan makanan ringan, dan terkadang minuman yang bersoda. Jika ada ibunya, tentu ia akan di marahi dan semua cemilan dan mimunam soda akan di buangnya ketong sampah. Bawelnya seorang ibu pada anaknya, pastinya hanya akan di abaikan dan malas mendengarnya saat masih hidup.
Namun seorang ibu ketika telah tiada, pasti akan membuat rasa beberda dan kehilangan seraya rindu tak berujung dengan kebawelannya. Tidak lagi Bram membaca dan menulis, buku pelajaran dan balpoint di doronganya sampai terpentok dengan tumpukan buku.
Kepalanya lalu di sandarkan pada headrest jok, dua kakinya seraya pegal di julurkan kedepan sampai mentok dinding tembok. Dua matanya hanya menatap langit kamar berwarna putih dengan cahaya lampu terang. Hatinya mulai berbisik rasa rindu dan kesepian, tidak lagi kepalanya mendarat pada headrest jok kursi.
Bram beranjak bangun, langkah dua kakinya terasa lemas seraya malas untuk mengajaknya melangkah jalan. Lalu ia terbaring tidur di ranjang, sembari menoleh pintu masih tertutup rapat. Biasanya pintu itu selalu terbuka dan terdengar suara kebawelan almarhumah ibunya selalu mengingatkannya untuk tidak begini, tidak boleh begitu, agar tidak makan itu dan jangan telat makan.
Kali ini semua itu tidak terdengar lagi, hanya kesepian yang kerinduan yang membalut hati kecilnya. Bram kembali terduduk di ranjang, lalu menoleh perhatikan alat peraga anatomi tubuh manusia, ukurannya sedang tergeletak di meja. Bram memang mengambil kuliah jurusan kedokteran, cita-citanya sejak sedari kecil. Saat ini ia harus menyelesaikan S2 specialis internis, penyakit dalam.
Rasanya percuma dan hampa, kali ini tanpa ada seorang ibu duduk menemai di sampingnya. Bakalan membuatnya tak berdaya dan patah semangat, karena tidak adalagi yang memberikan support padanya.
"Malas kalau begini belajar. Nggak ada ibu," gumamnya sendiri rasanya, kesel dan tidak semangat.
"Nyesel baru sekarang gua rasain. Gua rindu sama kebawelan ibu. Lagi ada ibu, ini dan itu selalu di larang. Mau begini nggak boleh, mau begitu di larang. Pulang kuliah harus pulang, nggak boleh mampir kemana-mana. Sekarang nggak ada ibu, kerasa bangat gua. Sepi bangat, gua kangen bangat sama ibu," di ambilnya bantal lalu di peluknya sembari Bram menangis sedih.
Bantal itu seraya tidak di lepaskannya masih dalam pelukannya, karena bantal itu selalu di pakai dan di tiduri almarhumah ibunya pada saat menunggunya di kalah ia sedang belajar terkadang sampai larut malam. Tidak lagi ada yang menemainya belajar walau sampai larut malam, tidak lagi ada yang mengingatkan dan menyiapkan makan saat Bram sedang mengejarkan tugas kampus.
Pintu terdorong kedalam, di sertai Bram menoleh ia sedikit tersenyum masih teringat dan teringiyang dalam ingatannya, yang ia pikir ibunya membuka pintu membawa makanan dan masuk menghampirinya. Tapi bukan ibunya, melainkan ayahnya.
"Ayah?" tanyanya rasa sedikit jengkel sembari meletakan bantal di ujung kasur.