"Jadikan Tuhan pilihan pertama, jangan jadikan Tuhan pilihan terakhirmu saat kamu sedang berada di ujung luka," tuturnya tersenyum penuh makna.
Selalu tergurat tersenyum pada raut wajahnya memancarkan suka cita. Pastor itu sejenak menatap cowok tampan, hidungnya bangir masih terduduk. Buku misa masih dalam pelukan Pastor Matius berbalik berdiri membelakangi Natal pandangannya menatap sendu Salip Altar dan Bunda Maria. Kemudian beranjak bangun, Natal berdiri di samping Pastor Matius menatap sendu dalam Altar Bunda Maria.
Pastor yang selama ini dekat dengan Natal, begitu juga dengan almarhumah ibunya yang sangat perhatian dan peduli pada jemaat gereja yang kurang beruntung. Begitu pedih dan merasa kehilangan sosok jemaat yang selama ini juga menjadi donatur gereja.
Merasa terpukul dan sedih seraya kehilangan seorang ibu membuat Natal semakin terpuruk dalam kesedihan yang tak berujung. Sejak ibunya tiada, baru kali ini bisa berdoa bertemu dengan Pastor Matius.
Selalu dengan penuh senyuman, hatinya selalu bergembira dan selalu melayani umat dengan senyuman suka cita. Rambutnya sudah memutih, bibirnya beratap kumis tipis putih dan dua mata beratap alis putihnya selalu memberikan kesejukan. Tubuhnya selalu mengenakan Kasula {pakaian luar tanpa lengan}. Kasula itu dipakai di atas pakaian putih yang disebut Alba dan selendang yang disebut Stola.
Hidup Pastor Matius selalu melayani di gereja, begitu peduli dengan semua umatnya tanpa membedakan antara ada dan tidak ada. Kepergian salah satu jemaat gerejanya, membuatnya ikut merasa terpukul.
"Dalam ajaran Katolik, meninggal dunia dan berbahagia bersama Tuhan dimaknai sebagai kepastian iman di mana jiwa orang beriman yang telah disucikan sepenuhnya akan masuk ke dalam kebahagiaan kekal di Surga, terbebas dari segala penderitaan, dan bersatu dalam kemuliaan Allah. Ibumu telah bahagia, jangan kamu sesali kepergiannya," lagi tutur Pastor Matius.
Pastor Matius menoleh Natal terenyuh, namun dua matanya seraya di tahan agar tidak mendulang air mata'kan bebas membasahi wajahnya. Ia menghela napas semakin menahan kesedihan walau kini dua matanya berkaca-kaca seraya tidak kuasa menahan kesedihan dan batinnya semakin mengajak bermain dengan kenangan indah masa lalu bersama almarhumah ibunya.
"Sulit sekali Pastor untuk melupakan kenangan bahagia dengan ibu. Ibu tidak hanya baik dan perhatian padaku, tapi ibu begitu peduli dan perhatian pada jemaat yang hidupnya merasa kurang beruntung," ujarnya sedih, dua matanya berkaca-kaca. Natal menghela napas lagi, berusaha untuk tidak meneteskan air mata di dalam gereja.
"Kebahagiaan sejati bersama Tuhan tidak di tentukan dalam kenyamanan dunia, melainkan dalam damai sejahtera yang melampaui akal. Dalam Alkitab, kebahagiaan sejati berasal dari ketaatan, keintiman dengan hadirat-Nya, dan hidup yang berpusat pada kasih serta pengharapan. Apa yang di lakukan ibumu semasa hidupnya, kini telah mendapatkan kebahagian sejati berasal dari ketaatannya, keintimannya dengan hadirat-Nya. Natal, jangan kamu sesali kepergian ibumu. Tunjukan pada Tuhan, jika hidupmu selalu taat pada-Nya. Dan tujukan pada Tuhan, kamu juga mampu untuk berbuat kebaikan seperti almarhumah ibumu," lagi tutur panjang Pastor Matius tersenyum menoleh Natal dan kali ini tidak kuasa menahan kesedihan yang mendalam.
Dalam gereja terasa sunyi hening, deretan kursi panjang membentang berbaris tertata rapi dengan ornamen Gereja Katolik. Deretan jendela yang berada di kiri-kanan masih terbuka lebar dan tadinya sinar matahari senja masih bebas menyelinap masuk, kini sinar senja tak lagi terlihat sudah berganti dengan gelapnya malam.
***