TUHAN DI UJUNG LUKA

Herman Siem
Chapter #11

SAKIT KARENA RINDU

Amarahnya kian terpendam, kian menusuk dalam pikiran terdalamnya karena rasa kecewa dengan ayahnya. Belum lagi menahan rasa rindu yang tentunya tak lagi bisa bertemu dengan ibunya. Saat ibunya masih ada, sungguh betapa sayang dan sangat perhatian padanya.

Segalanya selalu di perhatikan, dan selalu di larang apa yang tidak baik untuknya. Kali ini perhatian dan larangan itu tidak lagi terdengar dari mulut ibunya yang bawel, namun sayang. Sejak ibunya tiada, Bram tidak lagi terkontrol hidup dan segalanya. Dari pola makan, belajar, sampai tidurpun sampai larut malam karena harus menyelesaikan tugas.

Dua lingkaran matanya sudah menghitam mengantong dan terlihat gelambir di bawah dua tepian liang bawa matanya. Tandanya memang kurang tidur, biasanya jika ada ibunya selalu mengenakan baju piyama panjang, tapi kini hanya mengenakan celana pendek dan kaos singlet hingga membuat mudah sapuan dingin air conditioner merasuki tubuhnya seraya kebal dari hawa dingin.

Rasa lapar juga selalu di tahannya, walau lambungnya terkadang perih dan berteriak lapar ingin segara di asup makanan. Tidak hanya menahan rasa lapar, juga menahan minum yang malahan minum bersoda. Padahal calon dokter internise, dokter penyakit dalam yang lebih paham bagaimana makan dan menjaga pola hidup yang baik.

Dua matanya sudah sayup menahan rasa kantuk, namun jemarinya masih mengajak menari ujung balpoint dan otaknya harus extra's menghafal segala macam fungsi organ tubuh, serta obat-obatan dan kandungannya. Senyuman terpaksa terkadang tergurat dari wajahnya yang tampan seraya mengadu dan mengajak tersenyum frame foto almarhumah ibunya.

Meja belajar tidak hanya penuh dengan tumpukan buku pelajaran kedokteran dan cacatan, tapi juga penuh dengan aneka makanan cepat saji, makanan ringan serta minuman bersoda. Andai saja ibunya masih hidup, tentu tidak hanya dilarang dan di marahi, pastinya semua makanan dan minuman akan di buangnya kedalam tong sampah.

Terjatuh wajahnya mendarat di meja, dua matanya masih terjaga seraya memberikan senyuman pada frame foto almarhumah ibunya tidak membalas senyuman tergeletak tidak jauh dari pandangannya. Balpoin masih dalam cengkeraman jemari kanannya masih di paksa untuk menari di kertas putih.

Dua matanya terpejam di sertai balpoin terjatuh mendarat di atas kertas putih. Bram tidak sadarkan, mungkin saja sesaat sedang bermimpi mengumbar kenangan indah bersama ibunya di surga. Kamar terasa hening sunyi, tiada siapapun yang tahu dengan keadaan anak bungsunya yang sebentar lagi akan di wisuda S2 kedokterannya.

Tidak hanya rasa kecewa pada ayahnya begitu memaksa menyatakan ingin menikah, padahal kepergian ibunya belum lama. Karena kurang perhatian dari seorang ibunya, padahal Bram seorang anak yang mandiri dan mau mengerti dengan kondisi apapun. Namun karena kepergian seorang ibu yang sangat di cintainya, membuatnya sakit karena menahan rindu yang berkepanjangan.

"Bram. Bram," suaranya terdengar dari luar memanggil.

"Bram ...! Ayah! Ayah! Bram ... Pingsan ...!" terkejut dan panik Natal segera membopong adik satu-satunya membawanya segera keluar dari kamar.

"Ayah! Ayah!!!" makin panik dan memanggil, suaranya sangat kencang sampai memecah kesunyian ruangan tengah.

"Bram, bangun. Bangun loe!" makin panik sesaat bangunkan adiknya, tapi tidak bangun juga.

Natal segera berlari keluar, ayahnya sama sekali tidak mendengar apalagi segera keluar dari kamar. Tidak mau di ambil pusing, Natal bergegas berlari kearah garasi mobil. Banyak deretan mobil mewah yang mana akan mengantarkan adiknya kerumah sakit terdekat.

Lihat selengkapnya