TUHAN DI UJUNG LUKA

Herman Siem
Chapter #12

BERMAIN GILA

Kepanikannya semakin memuncak, semakin pikirannya terkulik gelisah dengan keadaan adik satu-satunya masih saja belum siuman. Hatinya berbisik ketakutan, ketakutan bila adiknya akan pergi selamanya untuk bersama ibunya di surga. Berusaha membuang pikiran yang tidak-tidak, namun tetap saja hatinya kecil merasa nelangsa.

Guratan raut wajahnya semakin pucat kertas karena sedari semalam seteguk minum belum membasahi bibirnya dan sejak sedari semalam juga perutnya di biarkan kosong dengan menabuh suara perih pada dinding lambungnya. Sejak semalam dan sudah menjelang pagi, Natal hanya seorang diri menunggu cemas depan ruangan IGD.

Tatapannya kosong, dua bola matanya seraya sudah tak kuasa menahan rasa kantuk dan sepet ingin terpejam sejenak saja, tapi tidak bisa. Lagi-lagi bisikan hatinya selalu bertanya, tentang keadaan adik satu-satunya masih saja terbaring di dalam ruangan dingin IGD tanpa jawaban pasti.

Terduduk sendirian sembari belakang punggungnya menyandarkan pada dinding tembok, dua kakinya menyilang menyiku dengan dua tangannya memeluknya dua kakinya erat. Terdengar suara roda brankar berputar di lantai, dari kejauhan terlihat dua suster sedang terburu-buru mendorong brankar.

Beranjak bangun, pandangannya jelas melihat wanita setengah baya sudah tak berdaya terbaring di brankar dan cepat di dorong masuk oleh dua suster kedalam ruangan IGD. Baru saja mau melongok kedalam sudah di tutup lagi oleh suster jaga IGD. Hatinya semakin bertanya tanpa ada jawaban tentang keadaan adiknya di dalam ruangan IGD.

Padahal hatinya semakin gelisah dan cemas dan pikirannya semakin bergulat dengan pikiran macam-macam, takut terjadi sesuatu dengan adiknya. Pintu terbuka, cepat kakinya mengajak berjalan mendekati pintu IGD sudah terbuka. Sudah berdiri suster, raut wajahnya terlihat lelah namun berusaha tersenyum menghampiri seorang kakak begitu sayang pada adiknya.

"Suster, gimana adik saya?" tanya sembari pandangan Natal sedikit melongok kedalam, tapi terhalang sekat tirai.

Di dalam ruangan IGD banyak deretan bangsal tertutup dengan tirai dan sedang terbaring pasien sedang melawan sakit dan sementara berada di ruangan itu untuk di isolasi sementara sebelum di pindahkan keruangan rawat inap.

"Adiknya sudah siuman, maaf kami baru mengabarkan bapak," jawab suster menoleh kedalam.

"Jika bapak mau melihat, silakan." lagi jawab suster persilakan masuk Natal bergegas masuk kedalam.

Pelan terdengar langkah dua kaki beralas sandal selop warna biru bergaris bermerk menapaki lantai warna putih berteriak kedinginan, Suster berjalan di depan seraya menunjukan di mana adiknya sedang terbaring. "Silahkan pak." persilahkan sembari mengangguk, lalu suster beranjak jalan pergi.

Hanya menatap tirai berwarna hijau muda bergerak-gerak seraya menari memanggil, dua kakinya terasa berat untuk melangkah padahal hanya tinggal selangkah dan tangannya cepat menyingkap tirai. Mungkin saja seorang kakak akan tidak tega melihat adiknya terbaring di bangsal.

Pelan jemari kanannya menyingkap di sertai dua kakinya yakin melangkah. Tirai sudah terbuka, dua matanya langsung terenyuh sedih namun menahan air mata agar tidak membasahi wajah tampannya dan tidak serta merta menambah beban kesedihan pada adiknya, jika kakaknya menangis sedih.

"Bram?" pelan tanya, Natal sudah berdiri di samping bangsal di mana adiknya terbaring.

Lihat selengkapnya