TUHAN DI UJUNG LUKA

Herman Siem
Chapter #13

BAHAGIA BERSAMA IBU

Langit sudah berganti dengan malam, langit mulai bermain dengan kedipan mata jutaan bintang menari bahagia dengan indung sinar rembulan malam menerangi semesta.

Gedung tinggi saling berlomba seraya ingin mencakar langit gelap di sertai tabuan suara klakson kendaraan bersautan yang masih saja terdengar memecah kesunyian malam.

Tampak satu rumah bergaya modern klasik, bangunannya masih terlihat baru dengan cat warna putihnya masih berkilau. Deretan mobil mewah tertata rapi terparkir dalam garasi terbuka, bak pameran mobil. Pelataran halamannya cukup lumayan luas dengan di tumbuhi rumput kecil dengan aneka tanaman sebagai haisan.

Penerangan cahaya lampu cukup terang tamaran menerangi sekitar, terdengar suara tawa kecil dari satu kamar tampak masih terlihat cahaya terang dari dalam kamar. Kamarnya cukup lumayan luas dengan tataan aneka furniture yang cukup mahal dan bermerk.

Tersenyum terdengar suara tertawa kecil sendirian dalam kamar, seorang gadis mengenakan celana pendek dan kaos warna hitam sedang tertelungkup dan dua kakinya bermain menekuk keatas dan di lonjoran kembali mendarat di kasur empuk.

Dua matanya jelas menonton rekaman videonya yang di rekamnya kemarin siang, padahal besok gadis berkulit putih mulai bekerja sebagai sekretaris. Agusta, tertawa kecil dan tersenyum menonton rekaman video di ponselnya, rekaman itu di ambil diam-diam dalam monilnya saat Natal mendorong motor di tepian jalan.

Ponsel diletakkannya, mungkin sudah bosan menonton. Dua matanya menatap plafon kamar, penerangan cahayanya cukup terang. Lalu menoleh kearah pintu terbuka lebar dan masuk seorang wanita anggun. Wanita anggun itu adalah Norma, ibunya Agutsa. Wanita anggun yang pernah sekali di lihat Bram ketika berada di kampus.

"Belum tidur, besok hari pertama kamu kerja, Agusta?" tanya wanita anggun sudah duduk menyamping di sertai anak gadis beranjak bangun dan memeluk ibunya dari belakang.

"Aku belum ngantuk bu. Bu, aku mau bahagiain ibu. Nanti gaji pertamaku untuk ibu," ujar Agusta masih memeluk ibunya dari belakang.

"Kamu sudah bekerja, ibu sudah cukup merasa bahagia, Agusta." sahut ibunya menoleh kesamping pipi kirinya di cium anak gadisnya.

Tidak lagi memeluk dari belakang, lalu bergeser dan duduk di samping ibunya. Dua pasang kaki menggantung dan telapak kaki tidak beralas sudah mendarat di lantai warna putih. Manja dan tersenyum kecil, wajah anaknya menoleh wajahnya ibunya tersenyum kecil.

"Bu, gimana hubungan ibu sama Om Julius?" tanya anaknya tersenyum lebar seraya berharap jawaban kepastian dari bibir ibunya terpoles lipstik merah merona dengan malam itu mengenakan daster warna merah bercorak batik.

Sesaat tidak menjawab, hanya menghela napas. Beranjak bangun dan berdiri depan anak gadisnya, tatapannya tersenyum dan anaknya masih menunggu jawaban dari bibir ibunya.

"Ibu tidak bisa memaksa Om Julius, Agusta. Kan'kamu tahu, kalau Om Julius baru saja di tinggal pergi istrinya," jawab, nadanya suara bergetar, dua matanya merona memerah sedih dan hatinya merasa terusik rasa sesal dan bersalah.

"Ibu kenapa sedih?" balik tanya anak gadisnya sudah turun dari ranjang dua tangannya meraih jemari tangan ibunya semakin dua matanya menitikan air mata.

Lihat selengkapnya