Tidak lagi terdengar canda tawa dua anak cowok berwajah tampan, apalagi suara bertengkar kecilnya terdengar dalam villa. Hanya terasa keheningan berbalut kesunyian menemani setiap perabot rumah serta furniture seraya hanya diam membisu kaku berselimut hawa dingin.
Tampak dari luar, bangunan villa terlihat besar dan megah bergaya modern dan hanya itu satu-satunya villa mewah di kawasan puncak. Artinya pemilik villa besar mewah itu orang yang berada, tentunya uang miliknya tidaklah sedikit.
Langit mulai datang senja, satu planet terpanas di jagat raya sebentar lagi akan kembali pada upuknya hanya menyisakan bias sinarnya menyelinap masuk kabut tipis.
Satu keputusan salah yang sudah di ambil oleh pemilik villa mewah itu, mengambil keputusan dan langkah yang telah melukai hati perasaan dua anaknya. Andai ia sadar, bila dua anaknya adalah generasi penerusnya dan tidak mungkin akan mengingkari kasih sayang dan perhatiannya, jikalau nanti ia sudah beranjak usia senja.
Pastinya dua anaknya dengan segenap kasih sayang dan tulusnya akan selalu memberikan perhatian dan kasih sayang yang tulus padanya. Semua sudah terjadi, tak mungkin bubur kembali menjadi nasi utuh. Apa yang di lihat anak bungsunya sungguh telah melukai dan menyayat hatinya, sampai menjatuhkan diri dari kamar lantai atas bangunan rumah sakit.
Sakit sungguh sakit yang di rasa anak bungsunya, kalah ia masih butuh kasih sayang dari ibunya. Begitu saja ibunya pergi meninggalkannya tanpa meninggalkan jejak kasih sayang padanya. Di tambah dengan hatinya merekam jelas apa yang di lihat dua matanya, jika ayahnya telah menyelingkuhi ibunya yang begitu sayang pada keluarganya.
"Tidak apa-apa, yah! Jika ayah tidak datang dan tidak peduli dengan Bram! Aku, kakaknya yang akan memakamkan jasad adikku sendiri!" suaranya jelas terdengar mruka dari lobang kecil speaker ponsel. Baru kali ini Natal bicara marah seraya membentak ayahnya, biasanya bicara kalem.
Tanpa jawaban, tanpa satu katapun terucap dari bibirnya. Wajahnya semakin terkulik sedih, cepat ponsel di jauhkan dari kuping kanannya. Julius, ayahnya Natal hanya terdiam, dua kakinya terikat dengan keras hatinya yang tidak ingin menghadiri pemakaman anak kandungnya.
Julius meletakan ponsel di meja, pandangannya menatap indah di kejauhan perbukitan yang mulai di selimuti kabut tipis. Tampak bila dari luar, sudah berdiri duda di balik jendela dalam ruangan tengah villa mewahnya. Sekali menghela napas pelan, lalu menoleh pada frame foto keluarga yang terpampang pada dinding tembok villa.
Hatinya kian terasa keras seperti batu, kenapa ia tidak datang untuk melihat hari terakhir anak bungsunya yang akan segera di makamkan. Sungguh hatinya memang terbuat dari batu yang keras, raut wajahnya sama sekali tidak tergurat rasa kesedihan, padahal yang meninggal dunia anak kandungnya sendiri.
Tidak tahu apa yang sedang di pikirkan Julius ketika itu, ia hanya seorang diri di villa miliknya. Tatapannya dingin, sedingin hawa pegunungan yang berangsur mulai terasa dingin saat menatap frame foto keluarganya. Sejenak tertegun sembari jemari kanannya mengelus frame foto wajah almarhumah istrinya.
"Semua karena perbuatan ayah, bu. Iya, karena ayah." gumamnya sendiri di dengar oleh kesunyian malam bermain dengan suara gerakan tarian dedaunan pepohonan dari luar villa.
***