"Saya turut ikut berduka cita mas, atas kepergian anak Mas Julius," suaranya terdengar pelan dari lobang kecil speaker tanpa ada jawaban satu katapaun. Suara itu, suara Norma, wanita anggun yang berapa tahun belakangan ini dekat dengan Julius, padahal masih berstatus sebagai suami orang.
"Hallo. Hallo Mas Julius," Julius tidak menjawab, hanya membiarkan ponsel di biarkan saja tergeletak di meja. Pandangannya hanya menatap keluar, terlihat jelas malam sedang menyelimuti perbukitan sekitar villa beratap langit gelap malam.
Menyesel juga sudah terlambat, semua sudah terjadi tidak lagi bisa mengembalikan yang telah meninggal dunia dapat hidup kembali. Raut wajahnya sempat menoleh cermin pajangan, terlihat guratan raut wajahnya semakin tergurat kesedihan dan penyesalan.
"Akh!!!" __ "Prangg!" berteriak marah dan mengambil asbak yang ada di meja di lemparnya kearah cermin panjangan sontak pecah berserakan di lantai.
Duda itu menangis sedih dan penuh amukan amarahnya, kenapa ia sampai menyalahkan cermin pajangan itu, bukannya harus menyalahkan dirinya saja. Menoleh lagi pada cermin pajangan, kali ini wajahnya kesedihannya tidak lagi jelas terlihat di cermin pajangan itu yang sudah retak dan sebagaian pecah berserakan di lantai.
Merasa bersalah dan menyesal masih di sertai tangisan bersalahnya, duda yang kini hanya memiliki satu anak saja. Ia kini sudah terduduk, tidak lagi kaki satunya bertumpu pada kaki satunya. menghela napas seraya menghentikan tangisan sesal dan rasa bersalahnya.
"Ayah, ayah yang bersalah pada kamu, Bram." gumamnya sendirian merasa semakin bersalah.
Kepaalnya di sandarkan pada jok empuk beralas kulit warna coklat tua. Pandangannya menatap sekitar ruangan tengah yang terasa sunyi dan sepi, biasanya dua anaknya selalu menemaninya setiap minggu di villa besar dan megah. Kali ini hanya seorang diri, dan kenapa ia tidak menghadiri pemakamanan anak bungsunya, sungguh keras hatinya seperti batu pualam.
"Ayah, ayah yang bersalah Bram," lagi gumamnya sendiri semakin bersalah.
Dua matanya terpejam, seraya menguntai kenangan pahit mulai merasuk pikirannya. Saat dua matanya terpejam, tetesan air mata mulai jatuh mengalir deras membasahi wajahnya.
Menguntai Kenangan Pahit: "Harusnya ayah lebih menghargai kesetiaan ibu! Kenapa ayah melukai hati dan menyelingkuhi ibu!" anak bungsunya berani menuding ayahnya sejenak hanya terdiam menahan amarah dan rasa bersalahnya.
Mungkin ayahnya kecewa, hatinya merasa terluka dan tersayat sakit kenapa anak bungsunya begitu berani menuding dan melawan padanya. Tentu saja ada sebab kenapa seorang anak begitu berani pada ayahnya, karena telah menyakiti hati perasaan ibunya.