"Ya, harusnya loe dong yang handle, masa loe diam aja si! Gimana si loe! Loe'kan manager operasional, ya loe harus beresin masalah ini. Masa gua! Akh!" gusar marah, tidak biasanya Natal sampai begitu marah pada manager operasional.
Lelaki bertubuh tambun, kancing bajunya satu tidak di masuk dalam celah lobang kancingnya hanya berdiri diam mematung. "Loe kenapa diam aja! Cepat panggil Agusta!" __ "I-iya, Tal," bentak lagi dan di jawab panik oleh lelaki bertubuh tambun.
Natal beranjak bangun dan berjalan mendekati jendela, di singkapnya tirai. Guratan raut wajahnya gusar, pandangan dua matanya menatap view city Jakarta beratap langit cerah. Sekali ia menoleh frame foto keluarganya, dua matanya mengajak bersedih namun tidak jadi dan cepat berbalik saat pintu terdorong kedalam.
"Tal, nih Agusta." kata lelaki bertubuh tambun sudah berdiri di samping sekretaris hanya menunduk takut.
"Maaf pak, saya lupa jika siang ini, Pak Natal ada business meeting with business relations. Saya coba menghubungi relasi bisnis, untuk reschedule. Maaf Pak Natal, relasi bisnis Pak Natal tidak mau, alasan mereka sudah ada di bandara," jawabnya ketakutan masih menunduk ketakutan.
"Kamu gimana si, Agusta!" __ "Loe yang harusnya gimana! Udah tahu Agusta lupa, loe diam aja! Akh! Udah-udah! Kalian berdua keluar! Keluar! Nagapain masih di situ!" lelaki bertubuh tambun berusaha membela diri, justru ia sendiri yang di bentak dan keduanya di bentak suruh keluar oleh Natal.
Kemudian keduanya keluar, sempat sekretaris menoleh melempar senyuman tipis malahan di balas dengan guratan raut wajah sinis dari Natal.
***
"Wis ora ana pangarep-arep maneh, kerjasama wis ilang, ilang amarga kowe lali," tutur dengan logat jawanya.
Rahman terduduk melempar dokumen kemeja di ambil sekretaris yang masih menunduk merasa bersalah. "Pak, apa artinya, saya tidak ngerti?" tanya Agustq tidak lagi menundukkan wajahnya.
"Sudah tidak adalagi harapan, kerja sama itu hilang, hilang karena kamu lupa. Lagian kenapa kamu bisa lupa si, Agusta? Justru kedatangan relasi bisnis dari Singapura, hanya untuk memperpanjang SPK. Kesalahan kamu fatal, Agusta. Perusahan ini besar, karena selama ini perusahan ini mengandalkan kontrak kerja sama dari mereka. Seneng utawa ora, aku kudu golek cara supaya perusahaan Singapura iki bisa nambah kontrak kerjane karo perusahaan iki. Apa? Kamu mau tahu artinya? Mau tidak mau, saya harus mencari cara agar perusahan Singapura mau lagi memperpanjang kontrak kerja samanya dengan perusahaan ini," Rahman gusar sembari terduduk sejenak menatap wajah Agusta.
"Sudah sana, kamu balik keruanganmu. Ohh, iya Agusta tolong kamu cari tiket pulang-pergi?" __ "Tiket kereta, pak?" menahan amarahnya Rahman baru beranjak bangun tambah gusar malahan di potong oleh Agusta.
"Tiket kereta! Ya tiket pesawat, Agusta! Emang udah ada di negeri ini, tiket kereta Jakarta-Singapura! Akh!" tambah gusar Rahman beranjak bangun keluar dari ruangan dan di ikuti Agusta.
***
"Rip, Arip." panggilnya pelan sembari menyingkap tirai kamar, di longkoknya kedalam tidak ada adiknya.