TUHAN DI UJUNG LUKA

Herman Siem
Chapter #17

HUJAN MEMBAWA BERKAH DAN KECEWA

Malam masih terasa panjang, terasa sunyi dan tampak kosong rumah besar megah bergaya modern. Tidak lagi terdengar suara canda tawa, pertengkaran kecil kakak dan adik, apalagi suara manja seorang anak pada ayah dan ibunya. Jendela kamar terlihat gelap gulita, pastinya tidak ada orang di dalamnya.

Sorot lampu mobil menerangi pintu gerbang, mobil mewah sudah berhenti dan pintu depan samping kirinya terbuka. Turun lelaki tua segera membuka gembok dan mendorong pintu gerbang kearah samping kanan. Sorot lampu mobil menerangi pelataran rumah, di sertai lelaki tua kembali segera menutup pintu gerbang.

Turun wanita tua, sudah membawa tas warna hitam yang di selempangkan pada bahu kanannya. Dua mata wanita itu hanya tertegun terenyuh menatap tampak depan rumah. Wanita tua itu adalah Mbok Sum, yang di panggil lagi untuk bekerja membantu dan merapihkan rumah. Sedangkan lelaki tua, Mas Rustam yang di pekerjakan kembali untuk menjaga rumah.

"Den Natal?" panggilnya pelan, suaranya seraya lirih ketakutan dan menghampiri anak majikannya berhenti berjalan setelah turun dari mobil.

Tersenyum menatap lelaki dan wanita tua, keduanya adalah pasangan suami istri yang sesungguhnya sudah bekerja lama, ketika Natal dan almarhum Bram masih kecil-kecil.

"Mbok Sum dan Mas Rustam nggak usah takut. Jika di tanya ayah, saya yang minta Mbok Sum dan Mas Rustam kerja lagi," jawabnya yakinkan wanita dan lelaki tua sejenak saling menoleh, namun guratan raut wajahnya seperti takut dan tegang.

"Ayo masuk, kenapa kalian berdua masih berdiri di situ saja," sembari tersenyum menahan tawa, Natal perhatikan wanita dan lelaki tua masih berdiri.

"Ibu masuk saja. Kan' bapak jaga di sini," jawab lelaki tua pada istrinya mengangguk dan beranjak masuk dan tas warna hitamnya sudah di tengteng anak majikannya.

"Pak, nanti ibu anterin makanan dan kopi ya," kata istrinya sembari berjalan dan menoleh pada suaminya hanya mengangguk.

Rustam hanya berdiri tidak lantas berjalan kerah pos jaga, di mana tempatnya bekerja setiap hari menjaga rumah itu. Terenyuh sedih, seperti benaknya sedang mulai menguntai sesuatu yang pernah di lihat dan di saksikannya. Menghela napas panjang lelaki tua itu seraya tidak mudah untuk mengenang masa di mana menjadi saksi hidup tentang apa yang di lihatnya.

Begitu juga dengan istrinya, dua matanya sudah tak kuasa menahan kesedihan saat berdiri depan kamar, pintu sudah terbuka lebar saat Natal menekan saklar lampu. "Mbok, walau Bram udah nggak ada. Kamar ini tetap Mbok Sum bersihin," kata Natal tersenyum sendu.

Mbok Sum semakin sedih, jemari keriputnya mengelus permukaan kasur yang di seprei warna hijau muda dan perhatikan sekitar kamar.

"Mbok Sum masih ingat, Den Natal. Kalau Mbok Sum sedang nggak enak badan, Den Bram selalu belikan obat buat Mbok Sum. Apalagi Den Bram suka jahil, sering ledekin Mbok Sum. Den Bram sering nunjukin patung itu. Terus jelasin dan nunjuk organ tubuh manusia. Jahilnya Den Bram, malahan nyolek perut Mbok Sum. Katanya Den Bram, dalam perut Mbok Sum ada cacing melintang besar, persis kayak usus di patung organ ini," tuturnya sedih sembari Mbok Sum mengelus alat peraga anatomi tubuh manusia yang sudah terangkai lagi dengan solasi walau masih terlihat retakan.

"Semua sudah berlalu Mbok Sum. Ibu dan Bram, mereka saat ini sudah bersama di sana," sahut anak majikan, mau menangis tapi di tahannya.

"Den Natal, maafin Mbok Sum. Waktu pemakaman Nyonya Agnes, dan Den Bram. Mbok Sum sama Mas Rustam nggak bisa datang," lagi tuturnya tidak panjang, tapi wajah wanita tua malahan menunduk seperti ketakutan.

Air matanya jatuh basahi lantai dan cepat jemari kanan menyekanya agar tidak terus-terusan membasahi lantai. Dua tangan anak majikannya memegang erat bahu wanita tua, wajahnya lalu mendongak sedih menangis sesenggukan. Rasa bersalah dan tidak enak hatinya semakin mengular dari guratan raut wajahnya.

Lihat selengkapnya