Janda dan duda itu sudah berada di satu resto mewah, di salah mall besar Jakarta. Mungkin saja Julius yang sengaja menjemput Norma, yang sesenja itu mengenakan dress panjang warna putih dengan terbalut cardigan warna hijau toska. Sungguh romantis suasana senja dengan iringan musik klasik yang sengaja di putar oleh pemilik resto.
Pelayan sudah meletakan sajian yang di pesan oleh keduanya. Dan dua cangkir winne warna merah pekat, batang gelasnya sudah di pegang dan di benturkan permukaan liang gelasnya oleh Julius dan Norma lalu di teguknya sembari dua matanya saling menatap sejenak melempar senyuman.
Rintik hujan kembali turun, masih membasahi permukaan jendela terlihat basah dari luar. Senja sudah berganti dengan malam hari, suasana resto tidak terlalu ramai. Dua tangan mulai menggerakan sepasang alat makan dan bibirnya siap untuk terbuka dan mulutnya siap mengunyah makanan.
Sungguh keras hati dan tidak ada rasa empatinya dengan duda tidak lagi anaknya dua. Kepergian istrinya saja masih belum lama, dan anak bungsunya juga belum lama pergi, masih hitungan hari. Tapi ia sudah berdua lagi, bertemu di resto mahal dengan wanita anggun. Seraya hatinya tidak peduli dengan kesedihan yang masih di rasakan anak sulungnya.
Di rasa pertunya sudah kenyang dengan makan-makanan mahal, walaupun memang hanya terlihat sedikit yang tersaji, namun harga makanan itu cukup lumayan mahal bagi orang-orang yang sehari-harinya mencari uang dengan memeras keringat.
"Dengar-dengar Agusta sudah bekerja?" tanyanya basa-basi saja, jemari kanannya seperti sedang merogoh sesuatu dari dalam saku jas warna grey.
Duda itu tersenyum setelah bertanya dan sejenak menunduk kebawah, dalam genggaman tangannya sudah di pegang kotak kecil warna merah muda.
"Sudah mas, sudah bekerja di salah satu perusahan shipping. Ya, sesuai jurusan yang di pilihnya," __ "Sekretaris?" tanyanya sembari beranikan diri untuk mengeluarkan kotak kecil masih dalam genggamannya dan di jawab wanita anggun sembari menatap wajah yang mulai menua lelaki yang bersamanya malam itu.
"Kenapa tidak di perusahanku saja. Kan' lebih mudah anakmu bekerja, ya mungkin aku bisa rekomendasikan sebagai sekretaris exekutif," jawabnya dan sudah meletakan kotak mewah muda di hadapan wanita anggun sedikit tertegun bercampur bingung.
"Mas?" tanya Norma semakin bingung dan seperti tahu isi dalam kotak merah kecil itu.
"Norma, malam ini aku ingin melamar kamu?" sudah di pegangnya cincin bertahta berlian kecil dan tangan kirinya menarik tangan kanan wanita anggun itu cepat di tariknya lagi.
"Mas, istri dan anakmu, mereka belum lama meninggal dunia. Maaf mas, aku nggak bisa menerima," jawabnya sedikit gusar. Norma beranjak bangun mengambil tasnya dan cepat Julius beranjak bangun menarik lengan kanan wanita anggun kembali terduduk.
"Norma, saya sungguh-sungguh mencintai kamu," ujarnya penuh keyakinan, dua mata duda itu menatap dalam janda beranak satu terenyuh sedih.
"Mas, saya tidak bisa!" beranjak bangun dan cepat bergegas jalan pergi meninggalkan duda kaya. Julius hanya terduduk menatap langkah jalan wanita anggun yang sudah pergi berjalan jauh meninggalkannya.