Rasa lelah dan capek mulai terasa setelah seharian berjibaku mencari pundi rupiah, sampai dua telapak tangannya kapalan memutih. Guratan raut wajahnya sungguh di paksakan agar tidak terlihat gelisah bercampur capek pada anak bungsunya yang sedang menghitung uang lembaran pecahan sepuluhan ribuan.
"Sepuluh, dua puluh, tiga puluh dan empat puluh. Semua uang yang ibu dapatin dari hasil nyuci dan gosok, empat puluh ribu," kata anak bungsunya setelah menghitung dan uang itu di berikan pada ibunya tersenyum sendu.
Suara adzan terdengar berkumandang dari kejauhan. "Alhamandulilah," sahut ibunya sedikit tersenyum, dahinya berkerinyit.
Tirai tersingkap, masuk anak sulungnya sepertinya sedang gusar. Beranjak bangun ibunya menghampiri di sertai anak bungsunya itu beranjak bangun menghampiri kakaknya.
"Kak, kok wajahnya di tekuk begitu. Ada apa? Kakak masih bertengkar dengan cowok yang kemarin sore datang ngasih kakak uang?" tanya adiknya sembari menoleh ibunya ikut tertegun bingung.
"Teman cowok?" __ "Emang ibu nggak tahu, kalau Kak Fitri punya teman cowok?" tanya ibunya malahan di balik tanya lagi oleh anak bungsunya.
"Rip, kamu sudah belajar?" __ "Iya kak, nih baru mau belajar. Tadi habis bantuin ibu ngitung uang ibu dari hasil nyuci dan gosok, cuman dapat empat puluh ribu," tanya kakaknya di jawab Arip menoleh ibunya tersenyum kecil masih pegang uang dalam genggaman tangannya di lihat anak sulungnya semakin nelangsa dan bingung serta sikapnya serba salah.
"Bu, aku belajar ya. Kak Fitri, nggak sholat?" beranjak jalan baru selangkah Arip sembari menoleh pada ibunya dan bertanya pada Fitri hanya terdiam.
Arip sudah tak lagi terlihat, kini hanya ada ibu dan anak sulungnya tidak tahu kenapa sikapnya seperti sedang menahan amarah dan kesal.
"Ibu hanya bisa pasrah saja dengan keadaan ini, Fitri. Walau jari-jari dan telapak tangan ibu pada kepalan, tetap saja uang untuk bayar hutang nggak bakalan cukup. Ibu juga nggak tahu sampai kapan uang itu akan terkumpul. Ibu hanya bisa pasrah pada-Nya, pada Allah. Sebagaimana ibu yakin dan percaya pada-Nya, masa iya Allah nggak bantuin dan bukanin jalan keluar sama masalah yang lagi kita hadapain," tutur ibunya sejenak berdiri sudah pegang sajadah dan mukena dan menatap anak sulungnya masih terduduk diam.