TUHAN DI UJUNG LUKA

Herman Siem
Chapter #20

TIADA LAGI ADA TUHAN SAAT DI UJUNG LUKA

"Terima kasih mbok," kata Natal saat gelasnya tersisa setengah kembali di isi air putih oleh wanita tua menoleh pintu kamar sudah terbuka lebar.

Langkah dua kakinya beralas sandal selop terdengar menapaki lantai. Mulut Natal mengunyah sarapan pagi, sarapan pagi sudah tersaji di meja makan di siapkan wantia tua bangun pagi. Mbok Sum cepat menghampiri Tuan Julius sudah terduduk, saat pandangannya perhatikan hidangan sarapan pagi dan menoleh pada anak sulungnya seraya cuek hanya mengunyah makanan dan dua tangannya sedang mainkan dua alat makan.

"Mbok Sum, saya tidak sarapan," ujarnya padahal wanita tua sudah menyendokkan nasi lalu di letakan pada permukaan piring.

Guratan raut wajahnya seraya gusar pada anak sulungnya, jemari kanannya sudah mencengkeram segelas air putih dan di teguk. Jantung wanita tua sudah berdegup kencang, hatinya berbisik takut jika antara anak dan ayahnya sebentar lagi akan terjadi pertengkaran.

"Natal, kemarin ayah dapat info jika relasi bisnis kita dari Singapore tidak lagi ingin menjalin kerja sama dengan perusahaan kita?" tanya ayahnya sudah meletakan gelas tersisa setengah air putih.

"Iya yah. Tapi sudah di follow up sama Rahman. Rahman masih berada di Singapore untuk meloby lagi. Semoga saja mereka masih mau kerja sama dengan perusahaan kita," jawab Natal rada sedikit gusar, padahal hatinya sudah panas melihat raut wajah ayahnya yang seperti tidak berdosa.

"Ohh, iya ayah mau tanya. Apa kamu sudah mendapatkan sekretaris baru untuk bantuin kamu?" lagi tanya ayahnya beranjak bangun dan kursi cepat di dorong lagi oleh Mbok Sum.

"Sudah yah. Justru karena keteledoran sekretaris baru itu, yang bikin kontrak kita batal," sahut Natal juga beranjak bangun. Ayahnya sedikit terperangah menoleh padanya acuh lagi.

Dan Mbok Sum juga cepat mendorong kursi agar masuk kedalam bawah meja makan. Hatinya sudah ketar-ketir, pasti sebentar lagi antara ayah dan anak akan segera bertengkar.

"Tumben ayah mau peduli dengan perusahaan. Biasanya ayah nggak mau tahu dan peduli, ini sampai masalah sekretaris saja ayah mau tahu," rasa sewot pada ayahnya sejenak menahan amarah, jelas tergurat di raut wajah Natal.

Lihat selengkapnya