Sungguh terasa sulit mengais kerinduan yang tak bertepian hanya menemukan terjawab kesunyian yang hampa. Tak ingin menambah beban dosanya semakin terasa berat, namun dosa itu selalu mengundang datang menghampirinya. Walau hatinya berusaha untuk kembali dekat dengan Tuhan, akan tetapi terasa sulit dan tak bisa di pungkiri bila sulit rasanya untuk kembali percaya pada-Nya lagi.
Gadis berhijab yang begitu dekat dengannya saat ini sudah terasa jauh, biasanya selalu menemani di kalah terjerat sedih terobati dengan senyuman manis dan tampannya. Mungkin saja gadis berhijab itu tengah tahu betapa sulit dan tidak mungkinnya untuk merajut cinta di atas dua perbedaan keyakinan.
Padahal hatinya terasa sungguh rindu pada gadis berhijab yang selalu menghiburnya, tapi kerinduan itu terasa hampa yang ada malah terpaksa dan pastinya akan menjadi duri dalam daging jika cinta dua perbedaan di terajut kembali. Hanya kesepian yang saat ini sedang melanda sampai mengular pikirannya harus melangkah kemana untuk mengusir rindu beratap hampa.
Motor jadul itu terus berjalan, dua rodanya berputar dengan perintah tarikan tuas gas yang suara knalpotnya terdengar seperti membangunkan dari tidur. Dua matanya terlihat sendu, ingin menangis pun percuma walau terasa panjang menahan rindu.
Motor sudah berhenti depan gapura pemakanan umum, sejenak masih terduduk di motornya dan dua kakinya seraya malas untuk mengajaknya segera turun. Hatinya berbisik untuk mengajaknya segera turun dengan sekali mendongak kelangit terlihat senja berawan gelap sebentar lagi akan turun rintik hujan.
Dua kakinya bergegas mengajaknya untuk berjalan menghampiri di mana dua orang tercintanya telah tidur abadi selamanya. Tatapannya dalam menatap dua kuburan masih berselimut taburan bunga kering, Natal terduduk jongkok di antara dua makam. Terenyuh sedih, hatinya berbisik menguntai doa dan bibirnya seraya bergetar mengajak untuk berteriak sedih.
Menghela napas menahan kesedihannya, dua tangannya meraih nisan salip seraya mengusapnya dengan kelembutan. "Aku harap kalain berdua selalu damai dan tenang di sana," gumamnya dalam hati dan sudah beranjak bangun.
Kesedihannya tidak bisa di pungkiri, air matanya sudah jatuh menetes basahi wajahnya di sertai rintik hujan turun seraya ikut berempati dengan kesedihan. Hanya itu yang bisa di lakukan Natal selalu datang kemakam di saat hatinya terbalut rindu terbentur kehampaan.
Rintik hujan semakin menggerus wajah tampan dan sekujur tubuhnya sampai basah. Tangisannya sudah bercampur dengan rintik hujan seraya Tuhan tengah menjawab setiap keluh kesahnya. Tuhan sudah mendengar doanya untuk dua orang yang di cintai dan di sayanginya agar selalu tenang dan damai di sana.
***
"Fit, kamu belum makan? Nih, ibu sudah ambilin," kata ibunya meletakan piring berisi makanan dan lauknya.
Tapi gadis berhijab itu hanya diam menggelengkan kepalanya, rasanya perutnya sudah kenyang. Padahal ibunya tahu jika anak sulungnya itu belum makan dari siang.
"Makan, nanti kamu sakit. Ibu juga yang repot," bujuk ibunya sampai ingin menyuapi makan, lagi-lagi anak gadisnya menggelengkan tidak mau makan.
"Ada apa Fit? Kamu bicara dong sama ibu. Jangan diam aja dong," tanya ibunya sudah duduk di sampingnya. Fitri menggeser duduknya di ranjang, tersenyum sendu bercampur gusar.