Langit malam yang selalu membawa kesedihan sudah berganti dengan siang, sudah berganti dengan sinar terik matahari seraya sengatannya terlalu panas. Sejak tadi duda itu sudah menunggu seseorang, hatinya seraya semakin keras dan tidak peduli dengan anak sulungnya ingin menutup rapat hubungan antara ayahnya dengan wanita anggun itu.
Duda itu seraya sedang mengais cinta, cinta yang sungguh sangat terlarang untuk kembali rajut. Andai ia bisa berpikir jernih, sudah banyak uang habis hanya untuk membuat merangkai renda-renda kebahagian diatas penderitaan keluarganya. Keberadaan wanita anggun itu sampai membuat anak dan istrinya meninggal dunia.
Pandangannya sekali menoleh kiri dan kekanan, beranjak bangun sembari melihat lingkaran jam kecil melingkar di pergelangan tangannya. Sudah hampir satu jam Julius menunggu orang yang di tunggu, tapi belum datang juga. Sipatnya seperti remaja yang baru jatuh cinta, wangian yang di pakainya sungguh sulit hilang walau sudah terbawa angin.
Setelan jasnya berwarna biru tua, sepatunya hitam terlihat mengkilat saat terpapar sinar matahari. Pelataran kopi terkenal di satu mall besar di mana tempatnya bertemu, siang itu tidaklah banyak pengunjung yang lalu-lalang. Lalu terduduk lagi di bawa payung canopy, di teguknya secangkir kopi yang tadinya panas mungkin terasa dingin saat di teguknya lagi.
Tersenyum sendiri sembari mengendus wangian yang sudah di kenalnya. Yang di tunggunya sudah datang, beranjak bangun seraya ingin menyambut wanita anggun, wanita pujaan hatinya. "Norma?" tanyanya, terkejut dua matanya terbelalak lebar.
"Maaf Mas Julius, aku telat," sahut wanita anggun yang kali ini ia datang tidak sendirian.
Kedatangan Norma di temani dengan seorang lelaki, yang mungkin saja lebih tua dari Julius. "Mas, kenalkan ini Boby," kata Norma menoleh lelaki berkepala plontos mengulurkan tangan pada Julius.
"Boby," __ "Julius," dua lelaki berjabat tangan.
"Norma, kamu urus saja urusan kamu dengan Julius. Saya menunggu kamu," setengah membungkuk lelaki berkepala plontos seraya bibirnya membisiki mesra telinga kanan Norma menolehnya membalas dengan senyuman mesra.
"Temanmu?" tanya Julius sinis.
"Boby tidak hanya sekedar teman. Tapi Boby segalanya bagiku, Mas Julius," jawab Norma, seraya ia bersalah dan bingung harus melanjutkan kata.
"Lantas selama ini hubungan kita?!" gusar beranjak bangun seraya ingin marah Julius pada Norma.
"Mas, Mas Julius dengerin dulu penjelasanku. Mas, aku tahu kamu kecewa dengan keberadaan Boby. Sudah lama aku ingin bicarakan ini, tapi kamu selalu memaksa aku untuk selalu intens dengan hubungan ini. Mas, aku ini wanita yamg punya hati, memang aku janda. Tapi aku butuh waktu untuk nentuin sikap, selama ini kamu terlalu baik mas samaku. Bukan berarti kebaikanmu, aku manfaatin. Justru aku jadi tidak enak, mas. Mas, aku merasa bersalah dengan aku sudah mendekatimu. Seakan apa yang sudah terjadi dengan keluargamu, semua salahku, mas," tutur Norma sudah ingin menangis tapi tidak bisa.