Fitri menyadari jika cinta tidak bisa di lanjutkan, akan tetapi relung kecil terdalam mengatakan masih ada kesempatan untul menguntai merajut kembali cinta itu.
Akan tetapi bisikan itu selalu membisikan relung hati kecilnya, bila terlalu sulit untuk menguntai mengenang kembali rajutan cinta yang kian terpuruk. Namun tak bisa di pungkiri bila cintanya terlalu sulit untuk di lepaskan begitu saja.
Seraya ingin berjuang demi cinta di atas dua perbedaan, pasti akan terhalang tembok tinggi yang menghalanginya. Kenapa benih cintanya baru muncul saat ini dari permukaan, di saat kejujuran mengulik kedua hatinya. Semakin sulit untuk menghindari, semakin terasa pedih untuk di paksa terlupakan.
Hari-harinya terasa tak lagi bersemangat, hanya ranjang jadi tempat pembaringan semata-mata untuk mengenang dan menguntai cinta yang kian terhalang tembok perbedaan. Ibunya saja tidak bisa berbuat banyak, tentu saja seorang ibu tak ingin kehilangan anak gadisnya walau berusaha untuk membenturkan cinta di atas perbedaan.
Ibunya berdiri depan kamar, jemarinya menyingkap tirai lagi-lagi melihat anak gadisnya hanya terbaring tidur, seraya hatinya semakin rapuh tak berdaya melawan tembok tinggi perbedaan. Guratan raut wajahnya hampir setiap hari selalu terkikis oleh air mata kesedihannya, semakin tidak keringnya air terasa bebas membasahi wajahnya.
"Fitri, sholat nak." ujar ibunya masih berdiri depan kamar.
Terasa malas dan dua kakinya terasa berat untuk diajaknya melangkah berjalan hanya menggantung di ranjang tidak menyentuh lantai. Di paksanya dua kakinya menyentuh lantai dan beranjak jalan menghampiri ibunya sedikit lega dan tersenyum, anak gadisnya masih mau mengadu pada-Nya.
Selesai sholat, mukena cepat di lepaskannya. Sudah terbasuh dengan air wudhu, sudah mengadu pada-Nya, wajahnya terlihat terpancar cahaya dan penuh senyuman walau hatinya tak bisa di pungkiri selalu berbisik mencari jalan agar mendapatkan solusi tentang bagaimana kisah cintanya tak lagi terbentur dengan perbedaan.
"Kak, sini duduk di sampingku," kata adiknya sudah siap makan malam.
Fitri terduduk di samping adiknya, lalu ibunya duduk sembari menyendokkan nasi dan lauk pauknya kemudian piring di geserkan pada anak sulungnya. Ketiganya malam itu makan, makan malam sederhana dan alasnya hanya duduk di lantai. Makannya saja masih tidak lahap, pikirannya masih mengawang mengajak berkelana mengarungi lautan cinta yang tak bertepian.
"Kak, emang benar teman Kak Fitri itu, agamanya beda dengan agama kita?" tanya adiknya menoleh ibunya menggelengkan kepalanya.
"Rip, cepat habsikan makanan kamu," __ "Hugg. Hugg!" sahut ibunya cepat mengambil segelas air di berikan pada Fitri makannya tersedak.
Fitri meneguk minum, menarik napas pelan seraya ingin melepaskan semua kenangan manisnya. "Huh," angin di hembuskan lewat mulutnya.
"Fitri. Fitri, keluar loe!" suara memanggil terdengar dari luar, ketiganya menengok.
"Bu?" Arip beranjak bangun ketakutan menoleh keluar, di balik kaca terlihat ada tiga lelaki sudah berdiri di teras rumah.