TUHAN DI UJUNG LUKA

Herman Siem
Chapter #24

PASRAHKAN PADA TUHAN

"Malulah untuk tidak lagi melakukan perbuatan dosa. Perbuatan dosa adalah pelanggaran terhadap hukum Tuhan dan cinta kasih yang memisahkan manusia dari Tuhan. Dosa dibedakan menjadi dua jenis utama, yakni disa ringan {merusak hubungan dengan Tuhan} dan dosa berat {memutuskan hubungan dengan Tuhan} Jangan kamu merusak dan memutuskan hubungan dengan Tuhan. Bertobatlah, berjalanlah di jalan Tuhan," suaranya terdengar bersahaja, Pastor Matius beranjak bangun sejenak berdiri menyamping menoleh Julius hanya terduduk menunduk.

Terasa berat dosa dan perbuatan yang di perbuatannya sampai duda tidak lagi memiliki dua itu hanya menunduk dan beranikan wajahnya mendongak dan menatap altar. Hatinya mengulik berbisik, jika apa yang di berbuatnya sungguh sudah sangat berdosa, rasanya tidak pantas ia berdoa dan duduk di dalam gereja.

"Pasrahkan semuanya pada Tuhan. Ikuti kata hatimu, dan tebuslah segala perbuatan dosa-dosamu," sejenak Pastor Matius menoleh dan mengangguk pada Julius, dua matanya semakin berkaca-kaca.

Dua kaki Pastor Matius mengajak berjalan pergi meninggalkan Julius masih terduduk. Terasa hening dan sunyi hanya terdengar suara burung bersiul terasa bebas terbang hinggap di dahan pohon luar gereja. Dua kakinya mengajak beranjak bangun, dua matanya semakin tidak kuasa untuk menahan kesedihan saat menatap altar Bunda Maria berlatar belakang Salip berukuran besar pada dinding tembok.

Julius paham dan tahu apa yang di katakan Pastor Matius padanya. "Saya akan menebus semua dosa-dosa perbuatan saya," gumamnya sendiri di dengar oleh keheningan gereja.

Langkah dua kakinya berjalan terapit dengan deretan kursi tertata rapi seraya membisu tak ingin ikut campur dengan segala dosa-dosa perbuatan duda itu. Pandangannya terhenti, Julius berdiri depan pintu gereja. Tatapannya kembali menatap altar Bunda Maria berlatar belakang Salip berukuran besar.

***

"Ya Allah, kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, dan kepada-Mu aku bertaubat." wajahnya sudah sembab basah dengan linangan air mata dan dua tangannya masih menengadah.

Terasa yakin dan terasa lega segalanya telah teruntai dengan segala doanya, malam itu Fitri kembali sholat dengan niatnya. "Semua kupasrahkan pada-Mu Ya Allah. Assalaamu’alaikum wa rahmatullah," air matanya masih tak henti berderai, walau sholatnya sudah selesai.

Fitri menoleh ibunya tersenyum sendu menangguk dan ikut terhanyut dalam kesedihan. Fitri sedikit merangkak jalannya dan lalu mendaratkan wajahnya di pangkuan duduk ibunya masih mengenakan mukena.

"Allah begitu baik samaku, bu. Allah pertemukan aku dengan orang baik, yang aku cintai. Tapi Allah juga yang telah menjauhkannya dariku, bu." tetesan air matanya semakin tumpah, semakin basah sembab wajahnya.

Air mata ibunya ikut larut tambah sedih sampai menyatu menetes kewajah anak gadisnya. Tangan kananya berusaha menyeka air mata wajah anaknya, tetap saja air mata itu jatuh menetes seraya tak mengering.

"Pasrahkan semuanya pada Allah. Allah tahu apa yang terbaik untukmu. Allah sudah memberikan garis kehidupan pada setiap umatnya. Kebaikan temanmu itu, itu cara Allah mempertemukan kamu dengannya. Namun Allah, punya cara lain tentang cerita cinta terbaik kamu dengan temanmu," tutur ibunya masih tangannya mengelus seraya mengusir air mata semakin jatuh bebas membasahi wajah anaknya.

Lihat selengkapnya