Sulit untuk di singkirkan rasa sedih kian terbalut kerinduan dengan orang-orang yang selama ini menyentuh hati. Terlebih ibu dan adiknya sungguh jauh jaraknya untuk di tempuh kerinduannya, hanya dengan menangis dan menguntai doa-doa terbaik selalu untuknya.
Sedangkan ayahnya saat ini belum tahu berada di mana keberadaannya, alasannya ingin menebus dosa-dosa perbuatannya. Hari-harinya hanya dalam kesendirian, hanya berteman dalam doa membuatnya terasa sedikit tenang dan nyaman menjalani hidupnya.
Natal tidak ingin memaksa lelaki tua yang penjaga rumah, padahal ia tahu kemana ayahnya berada saat ini. Tekanan dan ancaman ayahnya begitu kuat padanya, sampai tidak berani berkata terus terang dan memberitahukan kemana ayahnya berada.
Kini jauh lebih baik dari sebelumnya, hari-harinya di lalui dengan senyuman pasti dan pribadi yang baik masih saja selalu ingin berbagi dan menolong pada sesama yang menurun jiwa kebaikan dari almarhumah ibunya. Natal selalu berbagi di lingkungan gereja, masjid dan selalu berbagi pada siapa yang dilihatnya, ketika berada di jalan.
Tidak lagi mengendarai motor jadul vintagenya, kali ini tidak mau lagi membohongi dengan keadaan sesungguhnya. Mobil mewah jadi tumpangan sehari-harinya. Guratan raut wajahnya selalu tersenyum, selalu terata kecil melihat keindahan langit seraya hatinya mengucap syukur dengan nikmat apa yang di miliki saat ini.
Akan tetapi hatinya kecilnya tak dapat di pungkiri tetap saja masih bersedih, walau wajahnya sedang tersenyum. Pasti akan datang di mana Natal mulai terasa kesepian dan merasa kehilangan orang-orang yang selama ini dekat dengannya, kali ini pergi menjauh.
Mobil mewah itu berhenti dalam mistar garis zebra cross, pandangan mata dari bakik kaca dalam mobil jelas melihat lampu merah. Tidak menyadari jika ada motor berhenti di sampingnya. Menoleh kearah sisi kiri jalan, persis samping mobik di mana pengendara motor seorang gadis, wajahnya tidak terlihat jelas karena tertutup helm.
Gadis itu menoleh kearah mobil mewah sempat di balas Natal melihatnya tapi lampu merah sudah berganti dengan lampu hijau. Semua kendaraan berjalan, tapi tidak dengan motor yang di kendarai gadis itu. Motor mogoknya, bingung dan gelisah cepat gadis itu turun dari motor.
Tanpa ada yang peduli dan membantu, gadis itu lantas mendorong motor tidak tahu sampai kemana. Dari balik kaca helm warna hitam, samar terlihat wajahnya tergurat senyum walau peluh sudah terasa bebas bermain di wajah cantiknya terbalut hijab putih.
Tersenyum gadis itu, perasaan sudah lega sembari menahan motornya, pandangan menatap gedung mewah besar di mana hatinya berharap, jika ia bisa bekerja di gedung besar dan mewah itu.
Motor kembali di dorongnya dan cepat dua satpam menghampiri. "Selamat pagi, mbak." __ "Selamat pagi, pak." sapa dengan penuh hormat satu satpam pada gadis itu menjawab dengan sembari membuka helmnya.
Gadis itu ternyata Fitri, sepagi itu walau wajahnya lepek dengan peluh dan bajunya sudah penuh keringat tak mengapa walau mendorong motor sudah sampai di tempat yang di tujunya.
"Pak, saya ada interview hari ini dengan Pak Natal," __ "Ohh, Pak Natal. Pak Natal baru saja sampe. Mbak silakan keloby. Biar motor mbak saya yang parkirkan," masih mengatur napas, Fitri mengangguk pada satu satpam persilahkan dan satu satpam lagi mendorong motornya.
***
"Gua nggak tahu di mana ayah gua sampai detik ini, Rahman. Waktu ayah gua mau pergi. Ayah gua cuman bilang, katanya cuman mau nebus dosa-dosa kesalahannya aja. Tapi sampai detik ini, gua nggak tahu di mana. Man. Rahman? Hooiii!" tuturnya dan berbalik dari tadi Natal bicara hanya di cuekin oleh manager operasionalnya cuman tersenyum duduk.