Tuhan Izinkan Aku Selingkuh

Hadi Hartono
Chapter #1

Prolog

Prolog

Aku masih memanggil namanya setiap pagi. Raditya. Suamiku. Laki-laki yang dulu membuat aku yakin bahwa Tuhan tidak pernah salah menuliskan takdir. Nama itu bagai mantra yang terucap tanpa henti, membangunkan aku dari tidur yang kerap penuh mimpi buruk. Tapi kini, namanya hanya menggema di ruang kosong—seperti gema yang berbalik menghantui.

Radit duduk di kursi roda itu, diam seperti patung yang dibuat untuk dikenang. Matanya terbuka, namun tidak pernah berbicara. Tubuhnya hangat, tapi jiwanya seakan dikurung dalam peti es yang tak bisa pecah. Wajahnya yang dulu penuh semangat, kini seperti lukisan kusam yang kehilangan warna. Dan aku? Aku masih di sini. Terperangkap di antara cinta dan penderitaan, antara harapan dan kenyataan yang menyakitkan.

Setiap hari aku merawatnya. Menyeka air liurnya yang tak sadar menetes, mengganti popoknya yang harus kupastikan selalu bersih, menandatangani kontrak-kontrak bisnisnya yang menumpuk karena ia tak bisa mengurusnya sendiri. Aku yang dulu menjadi pendamping, kini menjadi pelayan, perawat, sekaligus pengurus segala hal yang dulu menjadi tanggung jawabnya. Kadang aku merasa seperti boneka yang diremas waktu dan dipakai tanpa henti.

Mereka bilang aku istri hebat. Orang-orang mengira aku kuat. Tapi mereka tidak tahu. Tidak ada yang tahu betapa aku menangis paling diam di dunia ini. Di balik senyum yang kupaksakan, di balik tawa yang kuperlihatkan ketika bertemu teman atau keluarga, ada lautan air mata yang tak pernah berhenti mengalir di dalam dadaku.

Aku berdoa, memohon, merintih. Bukan agar Radit sembuh, karena aku sudah tahu harapan itu nyaris mati. Tapi aku berdoa agar aku tetap bisa bertahan. Agar aku tidak menyerah pada rasa sakit dan kesepian ini. Agar aku tidak membenci hidupku sendiri yang kini terasa begitu berat.

Namun malam ini, entah kenapa, doaku berbeda.

Suara itu, doa itu, selama ini tak pernah keluar dari mulutku. Hanya tertulis diam di dalam hati, seperti surat yang tak pernah terkirim. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, aku tidak hanya membatin. Aku benar-benar mengucapkannya. Dengan suara yang gemetar dan kering, seolah memanggil Tuhan yang mungkin sudah letih mendengarku menangis tanpa berkata jujur.

Di kursi roda itu, Radit masih duduk. Matanya terbuka. Pandangannya kosong. Mungkin ia mengerti. Mungkin tidak. Aku tak pernah tahu. Kadang aku berharap ia benar-benar tak mendengar apa pun. Kadang aku berharap ia bisa menamparku walau hanya dengan tatapannya. Tapi ia diam. Selalu diam.

Tanganku menyentuh jari-jarinya yang kaku. Tubuhnya masih hangat, tapi dinginnya seperti telah menyusup ke dalam napasku sendiri. “Maaf, Mas...” bisikku.

Aku tidak ingin pergi. Aku tidak pernah ingin berkhianat. Tapi aku sudah terlalu lama tinggal di sini—di rumah ini, di pernikahan ini, di tubuhku yang merasa dikurung. Aku tidak ingin mati perlahan hanya karena berusaha menjadi istri yang sempurna.

Mereka tak tahu, betapa sepi itu bisa lebih tajam dari pisau. Mereka tak tahu, betapa sulitnya tetap tersenyum saat tak ada yang lagi menggenggam hatimu. Aku masih mencintainya. Tapi cinta yang aku beri kini terasa seperti bunga di kuburan: indah, tapi ditaruh untuk yang tak lagi hidup.

Dan aku masih hidup. Itu dosaku yang sebenarnya.

Aku hidup… dan mulai ingin mencintai lagi. Meski tahu, cinta itu bukan milikku. Meski tahu, cinta itu bukan hakku.

Kilas Balik: Masa Lalu yang Indah

Dulu, aku dan Radit adalah dua insan yang dipertemukan oleh takdir yang penuh berkah. Kami bertemu ketika aku masih menjadi mahasiswi di sebuah universitas ternama. Radit adalah sosok pria yang cerdas dan penuh pesona. Senyumnya mampu mencairkan hati siapa saja, dan caranya memperhatikanku membuatku merasa begitu spesial. Aku merasa bahwa Tuhan memberikan aku hadiah terbesar dalam hidupku ketika aku berhasil mendapatkan cinta dan perhatian dari Radit.

Lihat selengkapnya