Tuhan Izinkan Aku Selingkuh

Hadi Hartono
Chapter #2

Kehidupan Indah Alya dan Raditya

Langit sore menumpahkan cahaya keemasan di atas balkon rumah bergaya semi-klasik yang terletak di kawasan elite Pondok Indah. Alya duduk santai di kursi rotan putih, mengenakan gaun sutra warna lavender yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang anggun. Di tangannya, secangkir teh earl grey mengepulkan aroma harum yang menenangkan. Angin semilir membelai rambut panjangnya yang terurai lepas. Di seberangnya, Raditya tersenyum hangat dari kursi roda, mengenakan sweater rajut berwarna abu-abu lembut, matanya berbinar menatap perempuan yang dicintainya sejak mereka masih kuliah. Kini Alya dan Raditya memiliki 2 anak Rafa dan Aluna.


“Aku masih tak percaya kita bisa sampai di titik ini,” ucap Raditya pelan, suaranya serak tapi lembut. “Dari anak kos sempit di Bandung sampai jadi pemilik R&R Group sekarang.”


Alya tersenyum, menatap mata suaminya penuh cinta. “Perjalanan panjang, ya, Mas. Tapi aku selalu percaya, selama kita berdua, tak ada yang tak mungkin.”


Mereka tertawa kecil. Sekilas, pasangan ini tampak sempurna. Mereka punya rumah megah, bisnis berkembang, dua anak yang cerdas dan sopan. Tapi di balik semua itu, ada kenyataan yang tak bisa disangkal: sejak kecelakaan mobil dua tahun lalu, Raditya lumpuh dari pinggang ke bawah. Dunia mereka yang dulu berputar cepat dan penuh gairah, kini harus menyesuaikan diri dengan batasan baru.


Namun bagi Alya, Raditya tetaplah pria yang ia cintai. Ia tak pernah mengeluh. Setiap hari, ia memastikan suaminya tetap merasa berarti—menemaninya di ruang kerja, menggandeng tangannya saat terapi, bahkan tertawa bersama saat Raditya gagal mengejar anak-anak di halaman.


Mereka seperti pasangan dalam dongeng, dengan luka yang justru memperkuat cinta. Setidaknya itulah yang terlihat di permukaan.




Setiap pagi, Alya memulai harinya dengan rutinitas yang hampir tak pernah berubah. Ia bangun pukul lima, salat subuh, lalu menyiapkan teh dan sarapan ringan untuk Raditya. Setelah itu, ia mengecek email kantor dari iPad-nya sambil menemani Raditya mandi, dibantu oleh suster pribadi mereka, Sari.


PT. Alam Raya—perusahaan properti yang dulu dibangun Raditya dari nol—kini dipimpin Alya sebagai direktur utama. Ia mengambil alih roda perusahaan sejak sang suami tak bisa lagi aktif di lapangan. Awalnya hanya sekadar melanjutkan, tapi dalam waktu dua tahun, Alya justru membawa perusahaan ke level yang lebih tinggi. Ia punya insting bisnis tajam, komunikasi kuat, dan aura elegan yang membuatnya disegani lawan dan kawan.


Namun semua kesuksesan itu juga datang dengan tekanan. Jam kerja panjang, rapat dengan investor, godaan dari para pria mapan, dan isu internal yang tak habis-habisnya. Tapi Alya tetap berpegang pada satu prinsip: ia adalah istri Raditya, dan ia tidak akan mengkhianatinya.


“Mas, aku ke kantor dulu, ya,” ucapnya sambil mengecup dahi suaminya. Raditya mengangguk, lalu menggenggam tangan Alya erat.


“Jaga dirimu. Dan jangan terlalu keras sama diri sendiri, ya.”


Alya hanya tersenyum. Ia tahu ucapan itu adalah bentuk perhatian Raditya, tapi dalam hatinya, ia tak bisa berhenti merasa bersalah. Dunia bisnis bukanlah tempat yang bersih. Dan semakin tinggi ia melangkah, semakin banyak hal yang harus ia korbankan—termasuk waktu bersama Raditya.


Namun semuanya masih terkendali. Belum ada garis yang ia langgar. Belum...




Hari itu, Alya menghadiri rapat dengan investor asing di hotel bintang lima. Ia mengenakan setelan blazer biru tua dengan celana panjang high waist, rambutnya disanggul rapi, sepatu hak 10 cm membuatnya terlihat tegas dan berwibawa.


Salah satu peserta rapat, seorang pria keturunan Jepang bernama Kenji Takahashi, tampak menaruh perhatian lebih dari sekadar profesional. Matanya mengikuti gerak-gerik Alya, dan saat istirahat, ia mendekati perempuan itu.


“Mrs. Alya, your command of the meeting was truly impressive,” katanya sambil mengulurkan tangan. “May I invite you to a casual dinner to discuss a potential joint venture?”


Alya menatapnya tajam, lalu tersenyum sopan. “Thank you, Mr. Kenji. But I’m afraid I have a prior commitment. My husband is waiting at home.”


Sikapnya tegas, tapi tetap elegan. Ia tahu banyak pria mencoba mendekatinya dengan berbagai cara. Tapi ia juga tahu, ia tak bisa memberi celah sekecil apa pun.


Namun pulang ke rumah malam itu, Alya merasa kosong. Ia duduk di ranjang, membuka heels-nya perlahan, lalu menatap Raditya yang sudah tertidur dengan napas teratur. Lelaki itu tampak damai. Tapi entah kenapa, Alya merasa ada sesuatu dalam dirinya yang mulai berubah.


Bukan karena Kenji. Bukan karena godaan luar. Tapi karena dirinya sendiri.


Lihat selengkapnya