Langit Jakarta masih keabu-abuan ketika suara azan subuh mengalun lembut dari kejauhan. Di dalam kamar utama yang sejuk dan remang, Alya perlahan membuka mata. Ia mendengar suara mesin kursi roda pelan bergerak ke arah kamar mandi. Raditya sudah bangun lebih dulu, seperti biasa.
Beberapa menit kemudian, Alya bangkit, menyusulnya ke ruang kecil di samping kamar yang biasa mereka pakai untuk salat. Suami-istri itu salat berjamaah, Alya berdiri di belakang Raditya yang duduk di kursi roda. Suasana hening, damai, hanya ada desah doa dan getar hati yang diam-diam meminta kekuatan.
Selesai berdoa, Raditya menoleh dan tersenyum. “Doa apa tadi?”
Alya mengangkat alis. “Rahasia.”
“Masa sama suami rahasia?”
Alya menatap matanya. “Kalau aku bilang aku berdoa agar kita bisa tidur bareng lagi tanpa batasan kursi roda dan suster, Mas marah nggak?”
Raditya tertawa kecil. “Nggak. Tapi itu doa yang... berat.”
“Berat tapi perlu,” gumam Alya sambil menyender di bahunya.
Beberapa menit kemudian, mereka duduk berdampingan di meja sarapan. Alya menyendokkan bubur ke mangkuk Raditya, menambahkan sedikit suwiran ayam dan kerupuk udang. Sari baru saja meninggalkan meja, memberi mereka ruang untuk bicara.
“Kamu sibuk hari ini?” tanya Raditya, menyuapkan sendok pelan ke mulutnya.
Alya mengangguk. “Ada rapat dengan pemegang saham. Lalu sore mungkin lihat lahan baru di BSD.”
Raditya menatapnya lama, sebelum berkata pelan, “Kamu nggak pernah berhenti.”
“Kalau aku berhenti, semua ini berhenti juga, Mas.”
“Tapi jangan lupa istirahat. Aku tahu kamu kuat, tapi kamu juga perempuan biasa.”
Alya tersenyum. “Perempuan biasa yang dikasih tanggung jawab luar biasa.”
Raditya menggenggam tangannya. “Terima kasih, ya... Karena kamu tetap di sini. Menemani aku. Nggak pergi.”
Alya menahan napas. Ada satu detik hening yang menyesakkan. Lalu ia menjawab, “Aku memang tetap di sini, Mas. Tapi kadang... hatiku ketinggalan di tengah jalan.”
Raditya terdiam.
Mereka berdua menatap jendela. Di luar, matahari mulai muncul malu-malu dari balik pohon trembesi. Cahaya keemasan masuk pelan, menyapu lantai kayu dengan warna hangat. Alya berdiri dan berjalan ke rak buku, mengambil tablet kerja dan secangkir teh.
Raditya memperhatikannya dari belakang. “Kamu tahu nggak, kadang aku iri.”
“Iri sama siapa?”
“Sama kamu.”
Alya menoleh, heran. “Lho, kenapa?”
“Karena kamu bisa ke mana-mana. Bisa berpikir, bisa bergerak bebas, bisa menyentuh dunia. Sementara aku... hanya bisa menunggu kamu pulang.”
Alya mendekat. Ia meletakkan tangan di pipi suaminya. “Tapi kamu ada di tempat yang nggak semua pria bisa punya: hatiku.”
Raditya menutup matanya. Mencium telapak tangan Alya pelan. “Jangan biarkan aku kehilangan itu, ya.”