Pagi masih basah oleh embun sisa hujan malam. Udara Jakarta terasa sedikit lebih lembut dari biasanya. Burung-burung kecil berkicau di taman belakang rumah, dan aroma kopi dari dapur sudah lebih dulu mengisi udara sebelum matahari benar-benar naik. Alya berdiri di depan cermin sambil menyisir rambut. Ia mengenakan blouse putih lengan panjang dengan celana panjang krem, tampilan simpel namun tetap elegan. Di meja rias, ponsel menyala dengan notifikasi dari berbagai grup sekolah anak-anak. Ia membaca sekilas, lalu mendesah pelan.
Di kamar sebelah, suara Raditya terdengar dari ruang kerja kecil yang kini ia pakai sebagai kantor pribadi. Sejak kecelakaan dua tahun lalu, Radit jarang meninggalkan rumah, tapi kegiatan bisnisnya justru semakin padat. Laptop, tablet, dan dua ponsel nyaris tak pernah lepas dari jangkauannya. Suaranya terdengar jelas saat sedang meeting via Zoom.
“Ya, saya sudah review laporan cash flow itu. Tapi kita nggak bisa ambil keputusan sebelum dapat revisi dari pihak vendor,” ucap Raditya tegas.
Alya sempat melongok ke ruangan itu. Radit tampak serius, tubuhnya tegak di kursi roda, mengenakan kemeja biru muda dan headset di kepala. Alya ingin menyapa, tapi urung. Tak ingin mengganggu.
Ia melanjutkan ke kamar anak-anak.
Di lantai atas, Aluna masih sibuk memilih warna kaos kaki, sementara Rafa justru asyik bermain dengan slime-nya di dekat ranjang.
“Rafa, cepat ganti baju. Sekolah, Nak,” suara Alya mulai meninggi.
“Iya, Bundaaa... bentar lagiii...” jawab Rafa tanpa menoleh.
“‘Bentar’ kamu tuh bisa bikin kita telat,” balas Alya, sambil mengambil slime dan meletakkannya jauh dari jangkauan.
Rafa merengut, tapi akhirnya nurut. Alya menghela napas, menyisir rambut Aluna dan membetulkan kerah baju seragamnya.
Aluna menatap Bundanya di cermin. “Bun, hari ini temen-temenku bawa bekal roti keju. Aku boleh?”
Alya tersenyum. “Tentu boleh. Nanti Bunda belikan sore, ya.”
“Yeaaay!”
Mereka turun ke bawah setelah semua siap. Mobil sudah dipanaskan oleh Pak Budi, sopir keluarga mereka. Tapi hari ini, Alya memutuskan menyetir sendiri.
“Biar Bunda aja yang antar. Kamu istirahat aja, Pak Budi,” katanya sambil mengambil kunci.
Pak Budi sempat terkejut. “Loh, Ibu yakin?”
Alya mengangguk. “Hari ini Bunda pengin sendiri. Nyetir bisa jadi terapi.”
Pak Budi hanya tersenyum dan menyerah. Ia tahu, kalau Bu Alya sudah bilang begitu, tak ada gunanya membantah.
Dalam perjalanan ke sekolah, Aluna dan Rafa bertengkar soal siapa yang paling duluan keluar mobil nanti. Alya menyetir sambil tersenyum kecil. Di tengah semua kepenatan, anak-anak selalu jadi alasan terbesar untuk bertahan. Dunia mungkin penuh tekanan, tapi canda tawa dua malaikat kecil itu membuatnya tetap waras.
Setelah menurunkan anak-anak di gerbang sekolah, Alya duduk sebentar di dalam mobil. Ia tak langsung beranjak. Di dashboard, playlist lagu favoritnya menyala sendiri—sebuah lagu lama dari Tulus yang menenangkan. Tapi lagu itu justru membuat hatinya sesak.
Ia membuka jendela sedikit, membiarkan angin pagi masuk.
Pagi tadi Radit bahkan tak menoleh saat ia pamit. Tak salah, tentu. Radit sedang sibuk. Tapi entah kenapa, hatinya terasa seperti dibiarkan mengambang. Tidak diperhatikan. Tidak disapa.
Dulu, Radit selalu ikut mengantar. Dulu, mereka saling mencuri pandang di kursi mobil, berbagi ciuman kecil di pipi. Dulu... sebelum semuanya berubah.
Sekarang? Alya bahkan tidak yakin kapan terakhir kali mereka benar-benar bicara tanpa topik seputar anak, rumah, atau bisnis.