Flashback
Pagi itu langit Jakarta tampak jernih. Sinar matahari masuk melalui celah tirai ruang makan, menerpa cangkir kopi di hadapan Alya. Tapi di hatinya, tidak ada cahaya. Hanya rasa kosong yang tak bisa dijelaskan. Ia duduk diam, menatap kopi yang sudah dingin.
Anak-anak sudah berangkat sekolah. Raditya masih di ruang kerjanya, tenggelam dalam dunia angka dan strategi. Rumah terasa hening—bukan hening yang damai, tapi hening yang seperti menyimpan sesuatu.
Ponselnya bergetar.
Reni – 08.47
Alya langsung berdiri, melangkah ke ruang tamu, dan menekan tombol panggil. Suara Reni terdengar panik begitu sambungan tersambung.
“Bu Alya… saya baru terima kabar dari tim lapangan. Mobil operasional yang menuju proyek di Cibubur kecelakaan.”
Alya terdiam. “Siapa di dalamnya?”
“Dua staf kita luka berat. Tapi yang lebih parah… ada satu tamu ikut—bukan staf. Dia tewas di tempat.”
Alya merasakan dadanya mulai sesak. “Siapa, Ren?”
Reni terdengar ragu. “Namanya disebut... Rendra.”
Sejenak semuanya runtuh. Alya jatuh terduduk di sofa, tangan gemetar, ponsel hampir terlepas.
Rendra?
Orang yang baru kemarin ditemuinya. Yang menyapanya di lobi hotel dengan senyum akrab. Yang mengirim pesan tadi malam, ringan dan santai:
Alya menutup mulutnya sendiri. Tapi air matanya lolos. Bukan tangis kehilangan karena cinta—tapi kehilangan karena belum sempat menebus rasa. Karena sesuatu yang belum sempat dijelaskan… kini tak mungkin dijelaskan selamanya.
Raditya muncul dari lorong. Wajahnya terkejut melihat Alya menangis. “Alya? Apa yang terjadi?”
Alya menatapnya. “Mas… Rendra... meninggal. Kecelakaan.”
Radit menahan nafasnya. Ia tahu siapa Rendra. Nama itu pernah muncul dulu, jauh sebelum pernikahan mereka diuji luka.
Beberapa saat Radit hanya diam. Lalu ia maju, menggenggam tangan istrinya. “Aku ikut berduka.”
Alya tidak berkata apa-apa. Ia hanya menunduk, membiarkan air matanya mengalir pelan. Dunia seperti berhenti. Bukan karena cinta, tapi karena luka yang terlalu dalam untuk dijelaskan.
Hari itu berlalu seperti kabut. Alya berjalan seperti bayangan dirinya sendiri. Ia tetap menghadiri rapat siang, tetap menandatangani dokumen, tetap menjawab sapaan staf. Tapi pikirannya kosong.
Malamnya, ia duduk di kamar anak-anak. Rafa dan Aluna sudah tidur, wajah mereka damai. Alya membelai kepala keduanya. “Terima kasih karena kalian membuat Bunda tetap punya alasan untuk bangun tiap hari,” bisiknya.
Kembali ke kamar, Raditya sudah tertidur. Alya duduk di tepi ranjang, membuka ponselnya. Pesan terakhir dari Rendra masih ada di sana. Ia baca ulang. Perlahan. Seolah bisa mendengar suara itu berbicara lagi.
Ia tidak membalas. Ia tidak akan pernah bisa membalas.