BAB 1 — PULANG
Aku tidak tahu sejak kapan rumah itu mulai terasa berbeda.
Atau mungkin…
rumah itu memang tidak pernah sama seperti yang kuingat.
Aku hanya terlalu lama pergi dan datang kembali… sebagai orang yang tidak lagi sama.
Aku tiba menjelang sore, ketika matahari sudah condong dan bayangan rumah-rumah memanjang seperti sesuatu yang enggan beranjak dari tanah. Jalanan di depan rumah nenek masih sama—sempit, sedikit retak di beberapa bagian, dengan pohon jambu tua yang berdiri miring di sisi kanan pagar.
Tidak ada yang berubah.
Seharusnya itu menenangkan.
Tapi entah kenapa, langkahku melambat saat mendekati pintu.
Seperti ada sesuatu dalam diriku yang justru… menahan.
Seolah-olah langkah ini tidak benar-benar milikku.
Aku berdiri beberapa detik di depan teras.
Mendengarkan.
Tidak ada apa-apa.
Hanya suara daun kering terseret angin.
Lalu aku mengetuk.
Tiga kali.
Tok… tok… tok.
Tidak ada jawaban.
Aku menunggu.
Sedikit lebih lama dari yang seharusnya.
Lalu mengetuk lagi, sedikit lebih keras.
“Nek?” panggilku.
Sunyi.
Sunyi yang terlalu utuh.
Aku menghela napas, meraih gagang pintu, dan mendorongnya pelan.
Pintu itu tidak dikunci.
Bau itu langsung menyambutku.
Bukan bau busuk.
Bukan juga bau apek biasa.
Lebih seperti… kapur barus yang sudah lama menyerap waktu, kain tua yang tidak pernah benar-benar kering, dan sesuatu yang lembap.
Seperti tanah.
Tapi bukan tanah setelah hujan.
Lebih seperti tanah yang sudah lama menutup sesuatu.
Aku berhenti di ambang pintu.
“Aku pulang, Nek.”
Tidak ada jawaban.
Hanya rumah.
Diam.
Terlalu diam.
Seolah-olah ia tidak sedang kosong—
tapi sedang menunggu.
Aku melangkah masuk.
Ruang tamu terlihat rapi.
Terlalu rapi, bahkan. Kursi kayu dengan bantalan tipis tersusun lurus, meja kecil di tengahnya bersih tanpa noda, dan lemari kaca di sudut ruangan masih menyimpan piring-piring lama yang tidak pernah dipakai.
Semua ada di tempatnya.
Tapi tidak ada yang terasa digunakan.
Tidak ada yang terasa disentuh.
Seperti waktu berhenti di sini.
Aku meletakkan tas di kursi, mataku menyapu perlahan setiap sudut.
Lalu berhenti.
Di sandaran kursi paling ujung, ada selembar kain putih.
Dilipat rapi.
Aku tidak ingat nenek punya kebiasaan meletakkan kain di situ.
Aku mendekat sedikit, tapi tidak menyentuhnya. Bukan karena takut.
Tapi karena—
aku tahu aku tidak seharusnya.
Entah kenapa, aku merasa… tidak perlu.
Cukup untuk melihat lipatannya.
Kaku.
Terlalu rapi.
Seperti tidak pernah berubah sejak dilipat.
“Nek?”
Kali ini suaraku lebih pelan, terdengar lebih kecil.
Seperti diserap oleh sesuatu yang tidak terlihat.
Aku melangkah ke dalam, melewati ruang tamu menuju lorong sempit yang mengarah ke kamar.
Lampu tidak dinyalakan.
Cahaya dari luar hanya cukup untuk membuat bayangan memanjang di lantai.
Setiap langkahku terdengar jelas.
Tap… tap… tap…
Terlalu jelas.