BAB 2 — DUA SISI
Aku selalu bilang pada orang-orang kalau aku pulang karena ingin hidup lebih tenang.
Itu tidak sepenuhnya bohong.
Tapi juga tidak pernah benar-benar jujur.
Tiga tahun di Palembang mengajarkanku satu hal:
sibuk tidak selalu berarti hidup.
Aku bekerja terlalu keras.
Terlalu lama.
Sampai akhirnya semua hari terasa sama.
Bangun.
Kerja.
Pulang.
Tidur.
Ulangi.
Tidak ada yang salah.
Tapi juga—
tidak ada yang terasa benar.
Sampai suatu malam aku sadar—
aku tidak ingat kapan terakhir kali aku merasa… cukup.
Jadi aku berhenti.
Resign, kata orang-orang.
Nekat, kata yang lain.
Aku sendiri tidak punya kata.
Yang aku tahu—
aku lelah menjadi seseorang yang terus berjalan tanpa tahu ke mana.
Menulis datang setelahnya.
Awalnya hanya untuk mengisi waktu.
Lalu pelan-pelan, menjadi alasan untuk tetap bangun.
Cerita-cerita pendek yang kutulis menemukan pembacanya sendiri.
Tidak banyak.
Tapi cukup.
Cukup untuk membuatku percaya—
hidupku masih milikku.
Sampai telepon itu datang.
“Keluarga besar minta tolong.”
Suara tante Rini terdengar hati-hati.
Seperti memilih kata.
“Apa?” tanyaku, masih setengah mengantuk waktu itu.
“Nenek… mulai sering kambuh lagi.”
Aku diam.
“Kambuh yang biasa?”
Tidak ada jawaban langsung.
Dan entah kenapa—
itu sudah cukup.
Aku sudah mengenal “kambuh” nenek sejak kecil.
Dulu, aku tidak pernah benar-benar takut.
Lebih… bingung.
Nenek bisa diam berjam-jam.
Menatap sesuatu yang tidak pernah bisa kulihat.
Kadang berbicara sendiri.
Pelan.
Seperti berbisik pada seseorang yang berdiri terlalu dekat.
Kadang marah.
Kadang menangis.
Lalu kembali normal.
Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Ibu selalu bilang itu sakit.
“Gangguan saraf.”
Katanya dulu sempat dibawa ke dokter.
Dan memang—
ada masa di mana nenek rutin minum obat.
Tapi tidak pernah sembuh.
Hanya… ditunda.
Versi lain datang dari keluarga yang berbeda.
Dari paman.
Dari sepupu yang lebih tua.
Dari cerita-cerita yang selalu berhenti sebelum selesai.
Mereka tidak pernah menyebut kata “sakit.”
Mereka hanya bilang:
“Itu bukan dari dalam dirinya.”
Aku tumbuh di antara dua penjelasan.
Yang tidak pernah bertemu.
Dan seperti kebanyakan anak—
aku memilih yang paling mudah kupahami.
Logika.
Dulu, ibu pernah mencoba menjelaskan semuanya dengan cara yang paling bisa kuterima.
Katanya, waktu masih muda, nenek pernah ditampar kakek.
Keras.
Sampai pingsan.
Sejak itu… ada yang berubah.
Ibu menyebutnya gangguan saraf.