BAB 3 — MENJELANG SURO
Aku tidak menyangka hari itu akan menjadi hari paling tenang yang kami punya.
Dan mungkin—
yang terakhir.
Seminggu sebelum Suro, sesuatu berubah.
Bukan di rumah.
Bukan di udara.
Tapi pada nenekku.
Pagi itu, aku terbangun lebih awal dari biasanya.
Rumah masih sunyi.
Terlalu sunyi.
Seperti hari-hari sebelumnya.
Sejak wabah itu datang, dunia di luar seperti ditahan.
Jalanan kosong.
Tidak ada suara anak-anak.
Tidak ada pedagang lewat.
Bahkan suara motor pun jarang terdengar.
Seolah-olah—
semua orang sedang menunggu sesuatu.
Aku duduk di tepi ranjang.
Mencoba mengingat apakah aku bermimpi.
Ada perasaan aneh yang belum sempat kupahami.
Lalu aku sadar—
tidak ada suara dari kamar nenek.
Biasanya, selalu ada.
Tarikan napas berat.
Gumaman pelan.
Atau suara kain yang bergesek.
Tapi pagi itu—
tidak ada.
Aku berdiri.
Langkahku lebih cepat dari yang kusadari.
Pintu kamar terbuka.
Dan aku berhenti di ambangnya.
Nenek duduk di ranjang.
Aku tidak langsung masuk.
Tubuhnya terlihat… lebih kecil dari yang kuingat.
Kulitnya menempel pada tulang.
Seperti hanya ada satu lapisan tipis yang menjaga tubuh itu agar tidak runtuh.
Tulang bahunya menonjol.
Lehernya kurus seperti ranting kering.
Pipinya cekung dalam.
Aku menelan ludah.
Bagaimana tubuh sekecil itu—
masih bisa bertahan?
“Nek…?”
Suaraku pelan.
Nenek menoleh.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku datang—
matanya benar-benar fokus.
“Kamu sudah bangun, Ra?”
Aku membeku.
Suaranya…
normal.
Serak.
Tapi utuh.
Aku mendekat perlahan.
“Iya, Nek…”
Ada sesuatu di dadaku yang tiba-tiba terasa penuh.
Takut.
Atau lega.
Aku tidak tahu.
“Ayo, duduk sini.”
Tangannya menepuk pelan sisi ranjang.
Aku menurut.
Dengan hati-hati.
Seperti takut kalau gerakan yang terlalu cepat bisa merusak sesuatu yang rapuh.
“Kamu capek, ya.”
Aku menggeleng.
“Enggak, Nek.”
Dia tersenyum.
Senyum yang sudah lama tidak kulihat.
Dan entah kenapa—
aku justru ingin menangis.
Untuk beberapa saat, kami hanya duduk diam.
Tapi sunyi itu tidak menekan.
Tidak seperti biasanya.
Sunyi itu…
hangat.
“Ra,” katanya pelan.