Tujuh Hari Dalam Kafan

Bramanditya
Chapter #4

Malam Suro

BAB 4 — MALAM SURO



Satu Suro tidak pernah datang dengan suara.

Ia tidak mengetuk.

Tidak memberi tanda.

Tapi setiap tahun—

kami tahu.

Di keluarga Saptoparwiro, bulan itu bukan sekadar waktu.

Ia adalah sesuatu yang harus… dilalui.

Atau ditahan.

Dan malam itu, aku mulai mengerti kenapa.

Hari itu berjalan terlalu biasa.

Langit tetap pucat.

Udara tetap kering.

Rumah tetap sunyi.

Nenek masih bisa bicara.

Masih bisa duduk.

Masih bisa menatapku dengan mata yang… hampir kembali seperti dulu.

Dan justru itu yang membuatku lengah.

Seolah-olah sesuatu yang buruk

sedang menunggu

aku berhenti waspada.

Aku tertidur di kursi ruang tengah.

Lampu masih menyala.

Televisi mati.

Tidak ada suara selain detak jam yang terlalu pelan untuk didengar… tapi terlalu nyata untuk diabaikan.

Aku tidak tahu jam berapa aku terbangun.

Yang aku tahu—

rumah itu berubah.

Bukan karena suara.

Tapi karena… ketiadaannya.

Sunyi yang biasanya hanya terasa di sudut, kini memenuhi seluruh ruang.

Seperti rumah ini… kosong.

Atau—

dikosongkan.

Aku langsung bangkit.

“Nek?”

Tidak ada jawaban.

Langkahku cepat ke kamar.

Pintu terbuka.

Ranjang kosong.

Jantungku seperti jatuh ke dalam perutku sendiri.

“Nek!”

Aku berlari keluar tanpa berpikir.

Udara malam dingin dan kering.

Lampu jalan redup seperti hampir mati.

Bayangan rumah memanjang—tipis, tapi terasa hidup.

Lalu aku mendengar itu.

Teriakan.

Bukan teriakan minta tolong.

Lebih seperti… kemarahan yang terlalu lama ditahan.

Aku mengikuti suara itu.

Satu rumah.

Dua.

Tiga—

dan aku melihatnya.

Nenek.

Di tengah jalan.

Telanjang.

Tubuhnya yang kurus terlihat seperti rangka yang dilapisi kulit tipis.

Bahunya menonjol.

Pinggangnya cekung.

Langkahnya… tidak stabil.

Tapi tangannya—

menggenggam batu.

Dan saat ia melemparnya—

tenaganya tidak masuk akal.

Brak.

Kaca pecah.

“Keluar kalian!”

Suaranya… bukan suaranya.

Lebih berat.

Lebih dalam.

Seperti datang dari dada yang bukan miliknya.

“Aku tahu kalian di dalam!”

Aku membeku.

Beberapa pintu terbuka sedikit.

Orang-orang mengintip.

Tidak ada yang panik.

Tidak ada yang berteriak.

Seolah ini bukan pertama kalinya.

Seolah mereka sudah belajar… untuk tidak terlibat.

“Nek…” suaraku gemetar. “Nek…”

Aku mendekat perlahan.

Seperti mendekati sesuatu yang bisa pecah kapan saja.

“Ini Mira…”

Tidak ada reaksi.

Sampai—

dia berhenti.

Perlahan… sangat perlahan… kepalanya menoleh.

Matanya jatuh ke arahku.

Kosong.

Tapi penuh.

Penuh sesuatu yang tidak bisa kusebut.

“Bukan kamu…”

Suaranya rendah.

Lihat selengkapnya