Tujuh Hari Dalam Kafan

Bramanditya
Chapter #5

Yang Ditinggalkan

BAB 5 — YANG DITINGGALKAN



Beberapa hari sebelum bulan Suro berakhir—

semuanya berubah arah.

Bukan membaik.

Tapi… mereda dengan cara yang salah.

Nenek tidak lagi berteriak.

Tidak lagi melawan.

Tidak lagi mengumpat dengan suara yang bukan miliknya.

Dia hanya… diam.

Tubuh yang beberapa hari lalu seperti tidak mengenal lelah, kini runtuh ke dalam dirinya sendiri.

Tulang-tulangnya kembali menonjol.

Kulitnya kembali tipis.

Tangannya terkulai di sisi tubuh.

Matanya lebih sering terpejam.

Kalau terbuka pun—

tidak benar-benar melihat.

Kami mencoba memberinya makan.

Tidak masuk.

Air dipaksa.

Satu sendok.

Dua.

Lebih sering keluar lagi dari sudut bibirnya.

Seperti tubuhnya… menolak segala sesuatu yang datang dari luar.

Atau—

seperti sesuatu di dalamnya… tidak lagi membutuhkan itu.

Aku duduk di samping ranjangnya hampir sepanjang hari.

Mengelap mulutnya.

Merapikan selimutnya.

Memanggilnya pelan.

“Nek…”

Tidak ada jawaban.

Kadang matanya terbuka sedikit.

Tapi bukan ke arahku.

Lebih seperti… ke belakangku.

Atau ke sesuatu yang berdiri terlalu dekat

untuk bisa kulihat.

Aku tidak tahu mana yang lebih menakutkan—

dia yang marah tanpa henti,

atau dia yang seperti ini.

Sore itu, keluarga berkumpul lagi.

Lebih sunyi dari sebelumnya.

Suara-suara ditahan.

Kalimat-kalimat dipotong sebelum selesai.

Seolah semua orang takut

kalau sesuatu ikut mendengarkan.

“Kita nggak bisa begini terus,” kata paman Darto pelan.

“Rumah sakit?” tanya bibi.

“Masih pandemi.”

“Masuk ICU belum tentu bisa ditungguin.”

“Terus kita hanya melihat saja?”

Tidak ada yang menjawab.

Aku menatap ke arah kamar.

Dari pintu, tubuh kecil itu hampir tidak terlihat.

Seperti sudah mulai… menghilang.

“Aku ikut,” kataku.

Semua menoleh.

“Kalau Nenek ke rumah sakit… aku berjaga disana.”

Tidak ada yang menolak.

Tidak ada yang benar-benar setuju juga.

Hanya… diterima.

Seperti hal-hal lain di rumah ini.

Malam itu kami berangkat.

Rumah sakit terasa berbeda sejak pandemi.

Lebih dingin.

Lebih bersih.

Lebih jauh.

Seperti semua yang masuk ke dalamnya—

harus melepaskan sesuatu dari dirinya.

Nenek langsung dibawa ke ICU.

Aku tidak bisa masuk.

Aku hanya duduk di luar.

Menatap pintu.

Menunggu sesuatu yang tidak pernah benar-benar datang.

Hari pertama—

aku masih berharap.

Hari kedua—

aku mulai lelah.

Hari ketiga—

waktu kehilangan bentuknya.

Aku tidak lagi menghitung jam.

Hanya duduk.

Kadang tertidur.

Kadang terbangun tanpa tahu sudah berapa lama.

Kadang merasa baru saja memejamkan mata—

padahal matahari sudah berubah arah.

Sampai pagi itu.

Seorang perawat keluar.

Memanggil nama keluarga.

Aku langsung berdiri.

Dan sebelum dia bicara—

aku sudah tahu.

Tidak banyak kata.

Tidak perlu.

Tangisku pecah sebelum kalimat itu selesai.

Suara bibi menyusul.

Paman.

Yang lain.

Semua bercampur.

Lihat selengkapnya