BAB 6 — HARI PERTAMA
Hari pertama setelah kematian nenek…
tidak terasa seperti hari berkabung.
Tidak ada doa yang dipanjatkan bersama.
Tidak ada kursi tambahan di ruang tamu.
Tidak ada suara orang datang dan pergi membawa belasungkawa.
Rumah itu kembali seperti semula.
Sepi.
Rapi.
Dan… terlalu diam.
Seolah-olah sesuatu yang seharusnya pergi—
tidak pernah benar-benar meninggalkan tempat ini.
Aku masih tinggal.
Bukan karena ingin.
Tapi karena diminta.
“Tujuh hari saja,” kata paman Darto.
“Biar rumahnya nggak kosong.”
Kalimat itu sederhana.
Masuk akal.
Tapi sejak pertama kali diucapkan…
aku selalu merasa ada sesuatu yang disembunyikan di baliknya.
Bukan tentang rumah.
Tentang… siapa yang sebenarnya tidak boleh pergi.
Hari berjalan lambat.
Bukan karena banyak yang terjadi.
Justru karena hampir tidak ada apa-apa.
Aku berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain seperti seseorang yang sedang mencari sesuatu… tanpa tahu apa yang hilang.
Kadang duduk terlalu lama.
Kadang berdiri tanpa tujuan.
Tubuhku bergerak.
Tapi kesadaranku… seperti tertinggal sedikit di belakang.
Seperti ada jeda kecil antara niat dan gerakan.
Menjelang sore, aku berdiri di depan kamar nenek.
Pintu itu terbuka.
Tidak sepenuhnya.
Hanya cukup untuk memperlihatkan sebagian dalamnya—
cukup untuk mengundang, tapi tidak untuk menjelaskan.
Aku tidak ingat membukanya.
Aku mendorongnya pelan.
Kamar itu sudah dibersihkan.
Seprei baru.
Bantal tersusun rapi.
Tidak ada lagi bekas tubuh yang pernah terbaring di sana.
Tapi baunya… masih tinggal.
Minyak kayu putih.
Bedak tua.
Dan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan—
tanah yang basah,
seperti dari tempat yang tidak pernah benar-benar kering.
Aku melangkah masuk.
Pelan.
Lantai kayu itu berderit halus di bawah kakiku.
Aku berdiri di tengah ruangan.
Tidak bergerak.
Seolah kalau aku diam cukup lama…
aku bisa mengembalikan sesuatu yang sudah hilang.
“Ra…”
Suaranya pelan.
Sangat pelan.
Aku menoleh cepat.
Kosong.
Hanya dinding, lemari, dan bayangan yang jatuh dari jendela.
Aku menghela napas.
“Mungkin masih kebawa…” gumamku.
Dari ruang jenazah.
Dari bau formalin.
Dari mata yang terbuka terlalu lama.
Aku berbalik hendak keluar.
“Ra…”
Kali ini lebih jelas.
Bukan dari belakang.
Bukan dari luar.
Dari… dalam kamar.