Tujuh Hari Dalam Kafan

Bramanditya
Chapter #7

Yang Mengikuti

BAB 7 — YANG MENGIKUTI



Aku tidak pernah suka hujan malam.

Bukan karena gelap.

Bukan karena jalan licin.

Tapi karena…

semua terasa lebih sepi dari seharusnya.

Seolah dunia menyusut—

menyisakan hanya jalan, suara hujan,

dan sesuatu yang tidak terlihat…

tapi ikut berjalan bersamamu.

Malam itu, hujan turun tanpa jeda.

Sejak sore.

Tanpa henti.

Dan sejak sore itu—

Mira tidak bisa kuhubungi.

Pesanku hanya centang satu.

Teleponku berdering panjang.

Tidak diangkat.

Aku mencoba berpikir logis.

Mungkin dia tidur.

Mungkin kelelahan.

Tapi ada satu hal yang terus kembali—

tidak mau hilang.

Pesan terakhirnya.

“Jangan ke sini.”

Aku membaca ulang kalimat itu.

Pendek.

Dingin.

Kosong.

Bukan seperti Mira.

Tidak ada penjelasan.

Tidak ada emosi.

Seolah…

bukan dia yang menulisnya.

Tapi aku tahu dia.

Terlalu tahu.

Setelah tiga tahun bersama, diamnya tidak pernah terasa seperti ini.

Aku menatap layar ponsel lebih lama dari seharusnya.

Lalu, tanpa benar-benar memutuskan—

aku sudah berdiri.

Mengambil kunci.

Pergi.

Perjalanan malam dalam hujan selalu terasa lebih panjang.

Lampu jalan memantul di aspal basah.

Wiper bergerak cepat.

Kiri.

Kanan.

Kiri.

Kanan.

Suara hujan memenuhi kabin.

Radio sempat menyala—

lalu mati sendiri.

Aku tidak menyalakannya lagi.

Semakin jauh dari kota,

jalanan semakin kosong.

Hanya sesekali kendaraan lewat dari arah berlawanan.

Lampunya menyilaukan sesaat—

lalu hilang ditelan hujan.

Aku tidak tahu kenapa aku merasa harus cepat.

Seolah ada sesuatu yang akan terjadi—

kalau aku terlambat.

Atau…

sesuatu yang tidak ingin aku datang.

Aku mengencangkan setir.

Dan saat itu—

aku melihatnya.

Seseorang berdiri di pinggir jalan.

Perempuan.

Sendirian.

Di tengah hujan.

Lampu mobilku menerangi tubuhnya.

Dia tidak bergerak.

Rambutnya basah.

Menutupi sebagian wajahnya.

Kepalanya sedikit menunduk.

Air menetes dari ujung rambutnya—

jatuh pelan ke aspal.

Jantungku berdegup lebih cepat.

Aku mengurangi kecepatan.

Semakin dekat.

Dan entah kenapa—

Lihat selengkapnya