BAB 8 — HARI KEDUA
Aku bangun…
dengan perasaan yang salah.
Bukan pusing.
Bukan lelah.
Tapi seperti tubuhku…
tidak lagi sepenuhnya milikku.
Aku belum membuka mata.
Belum berani.
Karena aku sudah merasakannya lebih dulu.
Berat.
Bukan berat seperti kelelahan—
tapi seperti ada sesuatu yang membungkus tubuhku dari luar.
Menahan.
Mengikat.
Aku mencoba menggerakkan jari.
Lambat.
Seolah setiap sendi harus… meminta izin.
Aku membuka mata perlahan.
Langit-langit kamar nenek.
Aku tidak ingat kapan aku berbaring di sini.
Tidak ingat kapan aku memutuskan untuk tidur di kamar ini.
Atau…
apakah aku yang memutuskan.
Aku menarik napas panjang.
Dingin.
Udara masuk seperti melewati sesuatu yang sempit.
Aku mencoba bangun.
Butuh waktu.
Terlalu lama untuk sesuatu yang dulu terasa mudah.
Tubuhku kaku.
Terutama leherku.
Seperti ada titik yang tidak boleh dilewati.
Aku menelan ludah.
Menggerakkan kepala pelan.
Tidak lurus.
Ada tarikan halus.
Tidak terlihat.
Tapi nyata.
Aku duduk di tepi ranjang.
Tanganku tanpa sadar bergerak—
berhenti di dada.
Terlipat.
Aku langsung menurunkannya.
Jantungku berdetak lebih cepat.
“Ini cuma… kebiasaan,” gumamku.
Padahal aku tahu—
itu bukan kebiasaanku.
Aku berdiri.
Dan hampir jatuh.
Langkahku pendek.
Aneh.
Seperti ada jarak yang dipotong dari setiap pijakan.
Aku menatap kakiku.
Tidak ada yang berubah.
Tapi tubuhku… bergerak seperti ada batas.
Seperti ruang di sekitarku menyempit tanpa terlihat.
Aku berjalan ke cermin.
Pelan.
Setiap langkah terasa ditarik—
bukan ke depan,
tapi… ke dalam.
Aku berhenti di depannya.
Untuk beberapa detik—
aku tidak melihat.
Aku tidak siap.
Tapi aku tahu aku harus.
Perlahan—
aku mengangkat kepala.
Dan melihat diriku sendiri.
Aku.
Masih aku.
Tapi—
tidak sepenuhnya.
Kepalaku sedikit miring.
Hanya sedikit.
Tapi cukup untuk membuat sesuatu di dalam dadaku… turun.
Aku mencoba meluruskannya.