BAB 9 — YANG TAK KASAT MATA
Aku hampir saja putar balik.
Bukan karena alamatnya salah.
Bukan karena hujan yang belum benar-benar reda.
Tapi karena rumah itu…
tidak terasa seperti rumah.
Mobilku berhenti pelan di depan pagar tua yang berkarat sebagian. Catnya mengelupas, seperti kulit yang terlalu lama dibiarkan terbuka. Halaman dipenuhi daun kering—tidak disapu, tidak disentuh.
Seperti sengaja dibiarkan.
“Ini rumahnya Tante Mira?” tanya Mala dari kursi belakang.
“Iya,” jawabku.
Jawaban yang terdengar lebih yakin daripada yang kurasakan.
Aku mematikan mesin.
Dan saat itu juga—
sunyi.
Bukan sekadar tidak ada suara.
Tapi seperti… suara ditahan.
Aku turun.
Mala ikut, tapi langsung menggenggam tanganku.
Erat.
Biasanya dia tidak seperti ini.
“Kenapa?” tanyaku.
Mala menggeleng.
Tangannya dingin.
Bukan dingin karena hujan.
Lebih seperti… tidak ada hangat sama sekali.
Kami berjalan ke pintu.
Langkahku terasa lebih berat dari seharusnya.
Seperti tanah di bawah kaki… menahan.
Aku mengetuk.
Tok. Tok. Tok.
Tidak ada jawaban.
Aku mengetuk lagi.
Lebih keras.
“Ra! Mira!”
Sunyi.
Jam sebelas siang.
Tidak masuk akal.
Aku menoleh ke Mala.
Dia sekarang hampir menempel di belakangku.
Tatapannya tidak ke pintu—
tapi ke sesuatu di baliknya.
“Eh, Sandra ya?”
Suara itu datang dari samping.
Aku menoleh.
Seorang perempuan tua berjalan mendekat.
Aku mengenalinya dari cerita Mira.
“Tante Rini?”
Dia tersenyum.
Ramah.
Terlalu rapi untuk situasi seperti ini.
“Iya. Kamu Sandra, ya? Temannya Mira?”
“Iya, Tan. Dulu satu kantor.”
“Oh, iya… Mira sering cerita.”
Nada bicaranya hangat.
Tapi ada sesuatu yang tidak ikut hangat.
Seperti kalimatnya… sudah disiapkan.
“Mira ada, Tan?”
“Mungkin masih tidur,” jawabnya ringan.
Aku mengernyit.
“Jam segini?”
“Beberapa hari ini dia capek. Banyak tidur.”
Aku mengangguk pelan.
Masuk akal.
Tapi tidak cukup.
“Masuk aja dulu,” katanya sambil membuka pintu.
Aku ragu.
Sebentar saja.
Lalu masuk.
Udara di dalam rumah terasa berbeda.
Lebih dingin.
Lebih lembap.
Dan ada bau yang samar—
bunga.
dan tanah basah.
Aku pernah mencium bau ini.
Di tempat yang seharusnya sunyi.
Tempat yang tidak menunggu orang hidup.
Mala menarik tanganku.
Lebih kuat.
Aku menoleh.
Dia mulai bersembunyi di belakangku.
Seperti sesuatu di ruangan ini… bisa melihatnya.
Kami duduk.
Ruang tengah rapi.
Terlalu rapi.
Seperti tidak pernah benar-benar dipakai.
Atau… sudah disiapkan untuk sesuatu.
“Ra!” panggil Tante Rini ke dalam.
Tidak ada jawaban.