BAB 10 — HARI KETIGA
Aku bangun…
dengan napas yang tidak utuh.
Bukan seperti mimpi buruk.
Bukan seperti sesak biasa.
Tapi seperti wajahku…
dibungkus sesuatu.
Tipis.
Kasap.
Menempel di hidung dan mulut.
Udara masuk—
tapi tidak cukup.
Aku membuka mata.
Gelap.
Bukan karena kamar.
Tapi karena… ada sesuatu yang menutup penglihatanku.
Aku mencoba menggerakkan tangan.
Berat.
Sangat berat.
Seperti tubuhku dibungkus dari luar…
dan ditahan dari dalam.
Jari-jariku menyentuh wajahku.
Tidak ada apa-apa.
Tapi aku bisa merasakannya.
Kain itu.
Aku mencoba menarik napas lebih dalam.
Sakit.
Dada terasa ditekan.
Aku meronta—
Dan tiba-tiba udara masuk.
Aku tersentak bangun.
Cahaya kamar menyilaukan.
Aku terbatuk. Napas terengah.
Tanganku mencengkeram dada.
Aku… di ranjang.
Ranjang nenek.
Aku tidak ingat kapan aku kembali ke sini.
“Ra…”
Suara itu membuatku menoleh.
Tante Rini berdiri di pintu.
“Kamu tidur lagi?”
Aku mengangguk pelan.
Tenggorokanku kering.
“Iya…”
Suaraku serak. Hampir tidak keluar.
“Bangun. Ada tamu.”
Aku butuh waktu lebih lama dari seharusnya untuk duduk.
Tubuhku… lebih berat dari kemarin.
Lebih kaku.
Leherku—
Aku mencoba meluruskannya.
Tidak bisa.
Seperti ditarik ke satu sisi.
Seperti ada sesuatu yang menahannya dari dalam.
Aku berdiri.
Langkah pertama—
pendek.
Langkah kedua—
terseret.
Seperti aku lupa… cara berjalan.
Aku keluar kamar.
Dan melihat mereka.
Sandra.
Dan Mala.
Untuk sesaat—
aku merasa lega.
Melihat sesuatu yang… normal.
Dari luar rumah ini.
“Ra…” kata Sandra pelan.
Aku tersenyum.
Atau… aku merasa tersenyum.
“Eh, Sand…”
Suaraku terdengar pelan.
Tidak sepenuhnya milikku.
“Kamu sakit?” tanyanya.
Aku menggeleng.
“Nggak. Cuma capek.”
Aku melihat Mala.
Dia bersembunyi di belakang ibunya.
Menatapku.
Takut.
Aku tidak mengerti.
Aku ingin mendekat.
Tapi tubuhku… tidak bergerak.
Aku hanya berdiri.
Diam.
Dan tersenyum—
terlalu lama.