BAB 11 — HARI KEEMPAT
Aku bangun…
dengan tubuh yang semakin tidak mengenalku.
Napas masih ada.
Tapi tidak pernah penuh.
Selalu seperti… dihentikan di tengah.
Aku membuka mata.
Cahaya langsung menusuk.
Perih.
Aku refleks menutupnya lagi.
Terlalu terang.
Padahal tirai masih tertutup.
Aku mengerjap pelan.
Penglihatanku kabur.
Bukan gelap—
tapi seperti dilapisi sesuatu yang tipis.
Seperti kain.
Aku duduk perlahan.
Tubuhku terasa… ringan.
Bukan ringan yang melegakan.
Tapi ringan yang kosong.
Seperti sebagian dari dalamku… sudah tidak ada.
Aku menoleh.
Leherku—
lebih miring dari kemarin.
Aku mencoba meluruskannya.
Tidak bisa.
Tidak lagi kaku.
Tapi seperti… sudah menemukan bentuknya sendiri.
Aku berhenti mencoba.
Dan saat itu aku sadar—
aku mulai terbiasa.
Itu yang paling menakutkan.
Aku berdiri.
Langkahku semakin pendek.
Semakin dekat ke lantai.
Seperti kakiku… tidak ingin pergi.
Seperti rumah ini… tidak ingin melepasku.
Aku keluar kamar.
Tante Rini sudah menunggu.
“Kamu harus ke dokter.”
Nada suaranya tenang.
Terlalu tenang.
Aku tidak membantah.
Karena untuk pertama kalinya—
aku juga ingin tahu…
seberapa jauh ini sudah terjadi.
Siang itu, aku keluar rumah.
Dan dunia terasa… salah.
Matahari tidak hangat.
Cahayanya tajam.
Menusuk.
Seperti sesuatu yang mencoba menembusku.
Aku memakai jaket tebal.
Kacamata hitam.
Tapi tetap terasa.
Kulitku seperti menolak terang.
Seperti sesuatu di dalamku…
lebih nyaman di gelap.
Sandra menatapku lama saat aku masuk mobilnya.
“Ra…”
Aku tersenyum kecil.
“Maaf ya… ngerepotin.”
Dia menggeleng.
“Enggak.”
Tapi matanya tidak tenang.
“Kamu kenapa pakai jaket begitu?”
“Dingin,” jawabku.
Padahal tidak.
Yang aku rasakan bukan dingin.
Tapi… kosong.
Rumah sakit terasa lebih terang dari biasanya.
Terlalu terang.
Dinding putih.
Lampu putih.
Lantai mengkilap.
Semua memantul.
Semua menyakitkan.
Aku menunduk.
Mengikuti Sandra.
Seperti orang yang tidak ingin terlihat.
Atau… tidak ingin dilihat.
“CT scan ya, Bu.”
Aku mengangguk.
Aku tidak tahu apa yang mereka cari.
Atau mungkin—
aku tahu.
Tapi tidak mau mendengarnya.
Aku berbaring.
Permukaan dingin.
Keras.
Seperti meja di ruang jenazah.
Pikiran itu muncul—
lalu tidak pergi.
Aku menatap ke atas.
Lingkaran mesin.
Putih.
Kosong.
Seperti mulut yang terbuka.
“Jangan bergerak ya, Bu.”
Aku mengangguk.
Mesin mulai bergerak.
Dengung pelan.
Berulang.
Seperti ritme.
Seperti sesuatu yang… mengingat.
Aku memejamkan mata.
Dan saat itu—
aku merasakannya lagi.
Perasaan yang sama.
Seperti di rumah.
Seperti di kamar nenek.
Seperti di dalam peti.
Aku tidak sendirian.
Padahal aku sendirian.
Leherku terasa ditarik.