BAB 12 — HARI KELIMA
Aku sedang menulis…
atau setidaknya…
aku merasa sedang menulis.
Layar laptop di depanku menyala.
Kursor berkedip pelan.
Titik.
Diam.
Menunggu sesuatu yang tidak pernah datang.
Aku mencoba mengingat kalimat terakhir yang kutulis.
Tidak ada.
Kosong.
Seperti ada bagian dari pikiranku… yang dihapus.
Aku mengangkat kepala perlahan dari meja.
Leherku terasa kaku.
Miring.
Selalu ke arah yang sama.
Seperti sudah… diatur.
Aku mengedipkan mata.
Ruangan ini… kamarku.
Bukan kamar nenek.
Bukan ruang tengah.
Bukan lorong.
Semua terlihat normal.
Terlalu normal.
Dan justru itu yang salah.
Lalu aku mendengarnya.
Suara.
Pelan.
Dari luar kamar.
Bukan langkah.
Bukan pintu.
Lebih lembut.
Lebih basah.
Seperti… sesuatu yang dikunyah perlahan.
Aku diam.
Mendengarkan.
Suara itu teratur.
Tenang.
Tidak terburu-buru.
Seperti seseorang yang… menikmati.
Aku berdiri.
Langkahku terasa lebih ringan di sini.
Lebih normal.
Seolah tubuhku… lebih “diterima” di ruangan ini.
Aku membuka pintu.
Lorong gelap.
Tapi suara itu—
jelas.
Dari ruang tengah.
Aku melangkah pelan.
Satu langkah.
Dua langkah.
Semakin dekat—
suara itu semakin jelas.
Basah.
Lembut.
Dan ada bau.
Bunga.
Dan tanah.
Aku sampai di ambang ruang tengah.
Dan melihatnya.
Nenek.
Duduk di lantai.
Membelakangiku.
Di depannya—
tersusun sesajen.
Bunga mawar.
Melati.
Kenanga.
Dan sesuatu yang lebih gelap—
seperti potongan kain tua.
Tangannya bergerak.
Mengambil sesuatu.
Memasukkannya ke mulut.
Mengunyah.
Perlahan.
Seperti sedang makan sesuatu yang wajar.
Padahal tidak.
“Nek…?”
Suaraku kecil.
Dia berhenti.
Perlahan—
kepalanya menoleh.
Gerakannya tidak utuh.
Seperti lehernya tidak mengikuti arah dengan benar.
Wajahnya terlihat.
Pucat.
Lebih pucat dari yang seharusnya mungkin.
Matanya—
gelap.
Dalam.
Seperti tidak ada dasar.
Tapi dia tersenyum.
Terlalu lebar.
Tidak hangat.
Tidak hidup.
Dia mengangkat tangannya.
Menunjukkan apa yang dia makan.
Kelopak mawar.