Tujuh Hari Dalam Kafan

Bramanditya
Chapter #13

Hari Keenam

BAB 13 — HARI KEENAM



Aku terbangun…

dalam gelap yang bukan milik kamar.

Gelap yang menekan dari segala arah.

Bukan sekadar tidak ada cahaya—

tapi seperti ada sesuatu yang menutupnya.

Aku tidak bisa melihat tanganku sendiri.

Aku mencoba menarik napas—

tanah.

Bau tanah basah langsung masuk ke dalam paru-paruku.

Dingin. Lembap. Lama.

Aku tersedak.

Dada terasa sempit.

Seperti ruang ini… bukan untuk bernapas.

Aku menggerakkan tangan.

Terbentur sesuatu.

Keras.

Kasar.

Kayu.

Jantungku berhenti sesaat.

Aku menggerakkan kakiku—

tidak bisa.

Terlalu sempit.

Tubuhku lurus.

Dipaksa lurus.

Aku tidak sedang berbaring.

Aku… ditempatkan.

Tanganku gemetar saat meraba ke bawah.

Dan saat aku menyentuh sesuatu—

dingin.

Padat.

Bukan lantai.

Bukan kasur.

Permukaan itu… memiliki bentuk.

Kepala.

Dada.

Tangan.

Dibungkus kain.

Aku membeku.

Aku sedang berbaring…

di atas sesuatu yang juga dibungkus.

Pocong.

“Tidak…”

Suaraku pecah di tenggorokan yang kering.

Aku mencoba bangun—

Kepalaku menghantam keras.

Kayu.

Di atas.

Tidak ada ruang.

Tidak ada jalan.

Aku memukul.

Menghantam.

Mencakar.

“TOLONG! KELUARIN AKU!”

Suara pukulanku teredam.

Tanah di sekelilingku… menelan semuanya.

Aku menangis.

Air mata mengalir ke samping wajahku.

Masuk ke telinga.

Aku mencakar lagi.

Dan lagi.

Sampai jari-jariku panas.

Sampai kulitku terbuka.

Sampai aku—

terbangun.

Aku terduduk.

Napas tersengal.

Kamar nenek.

Selalu di sini.

Aku menatap tanganku.

Luka.

Goresan tipis.

Masih merah.

Masih basah.

Seperti baru saja mencakar sesuatu yang… nyata.

Aku menelan ludah.

Perlahan bangkit.

Langkahku pendek.

Berat.

Aku berjalan ke kamar mandi.

Menyalakan keran.

Air mengalir.

Aku menatapnya beberapa detik.

Lalu menyentuhnya.

Dingin.

Terlalu dingin.

Aku tidak yakin

apakah airnya yang dingin…

atau tubuhku yang sudah tidak mengenalnya lagi.

Aku membasahi jari-jariku.

Membersihkan darah itu pelan.

Aku menunggu rasa perih.

Tidak datang.

Aku menekan lebih keras.

Tetap tidak.

Hanya terasa… jauh.

Seperti aku menyentuh tangan orang lain.

Aku mengambil tisu.

Menekannya di luka.

Darah berhenti.

Terlalu cepat.

Aku menatap ujung jariku.

Dan di sela kuku—

ada sesuatu.

Serat tipis.

Putih.

Kaku.

Aku menariknya perlahan.

Seutas benang kecil.

Seperti…

Lihat selengkapnya