BAB 14 — HARI KETUJUH
Aku terbangun…
dengan napas yang tidak utuh.
Seperti ada sesuatu yang menahan dari dalam.
Aku mencoba menarik udara lebih dalam—
tidak bisa.
Dada terasa sempit.
Bukan sakit.
Lebih seperti…
tidak diizinkan.
Aku menelan ludah.
Kering.
Aku mencoba bangun.
Tubuhku berat.
Lebih berat dari kemarin.
Aku mendorong diri dengan tangan.
Berhasil duduk.
Kepalaku miring ke kanan.
Aku mencoba meluruskannya.
Tidak bergerak.
Aku diam.
Aku tidak mencoba lagi.
—
Aku menurunkan kaki ke lantai.
Dingin.
Aku berdiri.
Atau… mencoba berdiri.
Langkah pertama—
jatuh.
Kakiku tidak mau terbuka.
Seperti ditarik untuk tetap rapat.
Aku meraih meja.
Menahan tubuhku.
Mencoba lagi.
Pelan.
Langkah kecil.
Pendek.
Diseret.
Aku menatap kakiku.
“…ini bukan caraku berjalan.”
Tapi tubuhku tidak memberi pilihan lain.
Seperti sudah ada cara lain…
yang lebih benar.
—
Aku keluar kamar.
Lorong terasa lebih panjang.
Atau aku yang terlalu lambat.
Setiap langkah terasa seperti usaha.
Napas pendek.
Terpotong.
Aku berhenti.
Mencium sesuatu.
Bunga.
Dan tanah.
Aku tidak lagi mencari sumbernya.
Aku tahu.
—
Aku harus keluar.
Kalimat itu muncul.
Tiba-tiba.
Kuat.
Seperti bukan milikku.
Aku menoleh ke pintu depan.
Cahaya masuk dari celahnya.
Jauh.
Tapi satu-satunya hal yang terlihat hidup.
Aku mulai berjalan.
Langkah kecil.
Berat.
Tertatih.
Aku meraih ponsel.
Tanganku gemetar.
Oktav.
Tidak tersambung.
Sandra.
Tidak ada.
Aku menahan napas.
Yuni.
Aku menekan panggil.
—
“…Mira?”
Suaranya pelan.
Jelas.
Aku hampir menangis.
“Yuni… aku—aku nggak bisa—”
“Dengar aku.”
Tenang.
Terlalu tenang.
“Kamu harus keluar sekarang.”
Aku melihat pintu.
Masih jauh.
“Aku… nggak bisa jalan…”
“Bisa.”
Cepat.
“Selama kamu masih sadar… kamu masih bisa.”
Suara itu mulai… bergema.
Seperti lebih dari satu.
“Keluar… sekarang…”
Aku mengerutkan kening.
“Yuni?”
—
Napas lain masuk.