BAB 15 — RITUAL
Tidak ada yang langsung dimulai.
Aku berdiri di tengah ruangan itu—
dan untuk pertama kalinya sejak semua ini terjadi,
rumah benar-benar sunyi.
Bukan karena kosong.
Tapi karena semua orang… menahan sesuatu.
Napas.
Tangis.
Atau mungkin… penyesalan.
Mereka berdiri melingkar.
Mengelilingiku.
Tidak ada yang berani mendekat terlalu cepat.
Tidak ada yang menyentuh.
Seolah-olah aku sudah melewati satu batas
yang tidak bisa mereka langkahi lagi.
Aku melihat wajah mereka satu per satu.
Tante Rini.
Matanya bengkak.
Merah.
Seperti tidak tidur berhari-hari.
Paman berdiri di belakang.
Kepalanya menunduk.
Sejak tadi… tidak pernah benar-benar melihatku.
Bibi menutup mulutnya.
Menahan suara yang tetap bocor dari sela jari.
Tangis kecil.
Patah.
Cepat disembunyikan.
Aku menunggu.
Tidak ada yang menjelaskan.
Dan anehnya—
aku tidak lagi menuntut penjelasan.
Langkah pelan.
Tante Rini mendekat.
Tangannya terangkat.
Berhenti sesaat di udara—
seolah masih ragu apakah ia masih berhak menyentuhku.
Lalu akhirnya—
menyentuh pipiku.
Hangat.
Kontras dengan kulitku
yang mulai kehilangan suhu.
“Maaf…”
Hanya itu.
Tidak ada alasan.
Tidak ada pembelaan.
Dan aku… tidak butuh lagi.
Sunyi kembali turun.
Lalu suara paman—
akhirnya keluar.
Pelan. Berat.
“Kalau kita hentikan sekarang…”
ia berhenti sejenak, menelan sesuatu yang pahit,
“…tidak akan ada lagi yang tersisa.”
Aku menatapnya.
Tidak mengerti—
atau mungkin… mulai mengerti.
Ia mengangkat kepala.
Menatapku untuk pertama kalinya.
“Bukan cuma kamu, Ra.”
Sunyi.
“Seluruh garis kita.”
Dadaku terasa kosong.
“Kalau kamu lepas…” lanjutnya,
“…yang menunggu itu akan ikut keluar.”
Ia menarik napas.
“Dan setelah itu…
bukan kamu saja yang habis.”
Aku tidak bergerak.
“Semua yang tersisa dari keluarga ini—
akan berhenti di sini.”
Kata-kata itu tidak terdengar seperti ancaman.
Lebih seperti… keputusan
yang sudah diambil jauh sebelum aku lahir.
Aku menutup mata sebentar.
Dan saat membukanya—
aku tidak lagi mencari jalan keluar.
“Kalau… kamu mau,”
suara Tante Rini kembali, lebih lembut sekarang,
“…kamu bisa pamit.”
Ponsel diletakkan di tanganku.
Berat.
Nama itu masih ada.
Oktav.
Jari-jariku gemetar saat menekan panggil.
Nada sambung.
Satu.
Dua.
Tiga—
“Mir?”
Suaranya.
Dunia seperti berhenti sejenak.
Aku menutup mata.
Menarik napas—yang tidak pernah penuh.
“...aku…”
Suaraku hampir tidak keluar.
“Mir? Kamu kenapa?”
Aku mencoba lagi.
“...jangan… datang…”
Sunyi di seberang.
Lalu—
“Aku ke sana.”
Cepat. Pasti.