EPILOG — SETAHUN KEMUDIAN
Tidak ada yang tersisa dari rumah itu.
Setidaknya— begitu yang orang-orang pikirkan.
Waktu berjalan seperti biasa. Hari berganti. Cerita lain datang. Dan yang lama… perlahan dilupakan.
—
Toko buku itu ramai.
Suara orang bercampur. Langkah kaki. Bisik-bisik. Beberapa tertawa kecil. Beberapa memanggil nama yang sama, berulang-ulang.
Sebuah antrean panjang mengular di dalam ruangan.
Di ujungnya— dia duduk.
Tenang.
Senyumnya tidak berubah sejak tadi.
Tangannya bergerak pelan, membuka buku, menandatangani, menutupnya kembali.
Berulang.
Orang-orang datang dengan wajah berbinar. Berbicara. Bertanya. Tertawa kecil.
Dia menjawab.
Suaranya lembut. Terukur. Tidak pernah terlalu tinggi. Tidak pernah terlalu pelan.
Sempurna.
Terlalu sempurna.
—
“Terima kasih sudah datang.”
Kalimat itu keluar lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Tidak pernah berbeda.
Tidak pernah meleset.
—
Nama di sampul buku itu familiar.
Tapi tidak ada yang benar-benar membahasnya dengan suara keras.
Seolah semua orang sudah sepakat— untuk tidak melihat terlalu dalam.
—
Antrean bergerak.
Pelan.
Sampai akhirnya— tinggal satu orang.
Dia berdiri di sana lebih lama dari yang seharusnya.
Tidak langsung maju.
Hanya menatap.
—
Oktav.
—
Tangannya mengepal pelan di samping tubuhnya.
Dia sudah melihatnya sejak awal.
Dari jauh.
Dari saat pintu dibuka.
Dari saat orang-orang mulai memanggil namanya.
Dan sejak itu— ada sesuatu yang tidak pernah terasa benar.
—
Dia akhirnya melangkah.
Satu langkah.
Dua langkah.
Sampai berdiri tepat di depan meja.
Buku di tangannya terasa lebih berat dari seharusnya.
Dia meletakkannya pelan.
Tidak langsung bicara.
—
Perempuan itu mengangkat wajah.
Menatapnya.
Dan tersenyum.
Sama seperti ke semua orang sebelumnya.
Tidak lebih. Tidak kurang.
—
“Untuk siapa?”
Suaranya lembut.
Tidak asing.
Dan justru itu yang membuatnya terasa salah.
—
Oktav tidak langsung menjawab.
Dia hanya menatap.
Lebih lama dari yang seharusnya.
Mencari sesuatu.
Apa saja.
—
Mata itu.