Tujuh Hari Dalam Kafan

Bramanditya
Chapter #16

Epilog

EPILOG — SETAHUN KEMUDIAN



Tidak ada yang tersisa dari rumah itu.

Setidaknya— begitu yang orang-orang pikirkan.

Waktu berjalan seperti biasa. Hari berganti. Cerita lain datang. Dan yang lama… perlahan dilupakan.

Toko buku itu ramai.

Suara orang bercampur. Langkah kaki. Bisik-bisik. Beberapa tertawa kecil. Beberapa memanggil nama yang sama, berulang-ulang.

Sebuah antrean panjang mengular di dalam ruangan.

Di ujungnya— dia duduk.

Tenang.

Senyumnya tidak berubah sejak tadi.

Tangannya bergerak pelan, membuka buku, menandatangani, menutupnya kembali.

Berulang.

Orang-orang datang dengan wajah berbinar. Berbicara. Bertanya. Tertawa kecil.

Dia menjawab.

Suaranya lembut. Terukur. Tidak pernah terlalu tinggi. Tidak pernah terlalu pelan.

Sempurna.

Terlalu sempurna.

“Terima kasih sudah datang.”

Kalimat itu keluar lagi. Dan lagi. Dan lagi.

Tidak pernah berbeda.

Tidak pernah meleset.

Nama di sampul buku itu familiar.

Tapi tidak ada yang benar-benar membahasnya dengan suara keras.

Seolah semua orang sudah sepakat— untuk tidak melihat terlalu dalam.

Antrean bergerak.

Pelan.

Sampai akhirnya— tinggal satu orang.

Dia berdiri di sana lebih lama dari yang seharusnya.

Tidak langsung maju.

Hanya menatap.

Oktav.

Tangannya mengepal pelan di samping tubuhnya.

Dia sudah melihatnya sejak awal.

Dari jauh.

Dari saat pintu dibuka.

Dari saat orang-orang mulai memanggil namanya.

Dan sejak itu— ada sesuatu yang tidak pernah terasa benar.

Dia akhirnya melangkah.

Satu langkah.

Dua langkah.

Sampai berdiri tepat di depan meja.

Buku di tangannya terasa lebih berat dari seharusnya.

Dia meletakkannya pelan.

Tidak langsung bicara.

Perempuan itu mengangkat wajah.

Menatapnya.

Dan tersenyum.

Sama seperti ke semua orang sebelumnya.

Tidak lebih. Tidak kurang.

“Untuk siapa?”

Suaranya lembut.

Tidak asing.

Dan justru itu yang membuatnya terasa salah.

Oktav tidak langsung menjawab.

Dia hanya menatap.

Lebih lama dari yang seharusnya.

Mencari sesuatu.

Apa saja.

Mata itu.

Lihat selengkapnya