Aroma bawang goreng dan tumisan cabai selalu punya cara sendiri untuk membangunkan isi rumah nomor 14 di Kompleks Griya Asri. Bagi Alya, aroma itu bukan sekadar penanda pagi, melainkan alarm alami yang memaksanya untuk segera menyudahi pergulatan dengan selimut.
Gadis berusia delapan belas tahun itu menghela napas panjang, menatap langit-langit kamarnya yang dihiasi beberapa poster siluet kota dan jadwal perkuliahan tiruan yang sengaja ia buat sendiri. Hari ini adalah hari Selasa. Sebuah hari yang seharusnya biasa saja. Namun, bagi Alya setiap detik di minggu-minggu ini terasa seperti Ujian Nasional yang terus datang tanpa henti.
Alya beranjak dari tempat tidur, menguncir rambut hitamnya yang sedikit berantakan, lalu melangkah keluar kamar. Di lorong, ia berpapasan dengan Raka, adiknya yang berusia lima belas tahun. Raka masih mengenakan seragam putih-biru yang kancing paling atasnya sengaja dilepas, lengkap dengan wajah mengantuk dan rambut mencuat ke segala arah.
"Mbak, lihat dasiku gak?" tanya Raka dengan suara serak khas remaja yang baru puber.
"Biasain naruh barang di tempatnya apa susahnya, sih? Tuh di laci deket meja TV," omel Alya, kesal.
"Ya kalau aku tertib, nanti kasihan Mbak Alya gak punya kesempatan unjuk taring tiap pagi," balas Raka sambil tertawa.
Alya memutar bola matanya. Hubungannya dengan Raka adalah tipe hubungan kakak-adik standar. Delapan puluh persen ejekan, dua puluh persen kepedulian yang disembunyikan rapat-rapat.
Ketika Alya sampai di area dapur dan meja makan yang menyatu, suasana hangat langsung menyambutnya. Nisa, si bungsu yang baru menginjak usia sepuluh tahun, sudah duduk rapi dengan seragam SD merah-putihnya. Rambutnya dikuncir dua, menyandang tas ransel gambar kucing yang tampak terlalu besar untuk tubuh mungilnya.
"Pagi, Mbak Alya!" sapa Nisa dengan keceriaan murni anak-anak yang belum terbebani urusan dunia.
"Pagi, Sayang. Pintar banget udah rapi." Alya mengacak rambut Nisa pelan, membuat bocah itu mengerucutkan bibirnya.
Di dekat kompor, sosok Ibu sedang sibuk membolak-balik telur dadar di atas wajan. Ibu mengenakan daster batik andalannya, bergerak dengan ritme yang efisien khas seorang ibu rumah tangga yang sudah memetakan setiap sudut dapurnya selama belasan tahun. Sementara di meja makan, Ayah sedang fokus membaca berita di tabletnya, sesekali menyeruput kopi hitam yang uapnya masih mengepul.
"Alya, sarapan dulu. Itu nasi gorengnya sudah Ibu siapkan," ucap Ibu tanpa menoleh, tangannya masih lincah memindahkan telur ke piring saji.
"Iya, Bu," jawab Alya pelan. Ia menarik kursi di seberang Ayah dan mulai menyendok nasi goreng ke piringnya.
Untuk beberapa menit, suasana meja makan itu tampak seperti potret keluarga bahagia dalam iklan susu komersial. Ayah yang sesekali melontarkan lelucon bapak-bapak yang garing, Raka yang akhirnya menemukan dasinya dan kini makan dengan terburu-buru karena takut terlambat, serta Nisa yang sibuk menceritakan temannya yang membawa bekal kekinian ke sekolah.
Akan tetapi, kehangatan itu perlahan menguap ketika Ibu mematikan kompor, melepas celemeknya, dan ikut duduk di meja makan. Mata Ibu langsung tertuju pada Alya. Ada binar penuh harap di sana. Namun bagi Alya, binar itu terasa seperti beban berat.
"Alya." Ibu membuka suara, nadanya sengaja dibuat selembut mungkin, meskipun Alya sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini. "Kemarin Tante Widya telepon Ibu. Katanya, pendaftaran jalur mandiri untuk Jurusan Akuntansi di universitas pilihan Ayah sudah dibuka. Kamu sudah cek persyaratannya?"