Gerimis tipis mulai turun membasahi kaca jendela perpustakaan kota saat Alya memutuskan untuk mengemas buku-bukunya. Sejak pertengkaran pagi tadi, ia sengaja menenggelamkan diri di antara barisan rak buku, mencoba mencari pelarian dari rasa sesak yang menggelayuti dadanya. Namun, baris-baris teks tentang teori visual yang ia baca seolah memuai, berganti menjadi bayangan wajah Ibu yang kecewa.
Alya menghela napas, menyandang tas ranselnya yang terasa lebih berat dari biasanya. Ketika ia melangkah keluar dari gedung perpustakaan, langit sudah berubah warna menjadi abu-abu gelap, nyaris hitam. Angin berembus kencang, menerbangkan daun-daun kering dan membawa aroma tanah basah yang pekat.
Hujan tidak lagi turun malu-malu. Dalam hitungan menit, langit menumpahkan air dalam volume yang masif.
Alya merapatkan jaketnya, berdiri di teras gedung sambil menatap bulir-bulir air yang menghantam aspal dengan keras. Ia merogoh saku, mengambil ponselnya untuk memeriksa jam. Pukul dua siang.
"Jam segini, Ibu pasti lagi jemput Nisa," gumam Alya lirih.
Pikiran itu melintas begitu saja, menghadirkan secercah rasa bersalah. Di hari-hari biasa, jika hujan sederas ini, Alya sering kali ikut menemani Ibu menjemput Nisa menggunakan mobil perak tua milik keluarga mereka. Wiper mobil itu sudah agak seret, dan Ibu selalu mengeluh pandangannya agak kabur jika menyetir di tengah badai. Namun hari ini, karena gengsi dan sisa amarah tadi pagi, Alya memilih pergi sendiri.
Di belahan kota yang lain, wiper mobil perak itu memang sedang bekerja keras, berdecit menyapu aliran air yang deras di kaca depan. Ibu mencengkeram kemudi dengan kedua tangannya yang mulai dingin. Jarak pandang di depannya merosot tajam, hanya menyisakan siluet lampu rem merah dari kendaraan di depannya yang merayap membelah banjir luapan di jalan raya.
Di kursi penumpang sampingnya, Nisa duduk sambil memeluk tas kucingnya erat-erat. Suara petir yang sesekali menggelegar membuat bocah sepuluh tahun itu berjengit kaget.
"Ibu, hujannya serem banget," cicit Nisa, matanya menatap keluar jendela yang berembun.
Ibu menoleh sejenak, memaksakan sebuah senyuman menenangkan di wajahnya yang sebenarnya diliputi kecemasan. "Gak apa-apa, Sayang. Kita jalannya pelan-pelan, ya. Sebentar lagi kita sampai rumah, kok."
Ibu memfokuskan kembali pandangannya ke depan. Pikirannya sebenarnya tidak sepenuhnya berada di jalanan. Di sela-sela konsentrasinya menyetir, kilasan perdebatan dengan Alya tadi pagi kembali mengusik hatinya. Ibu memikirkan kata-kata Alya yang terasa mengiris egonya. “Ibu cuma mau Alya jadi robot yang ngikutin kemauan Ibu!”
Kalimat itu menancap dalam di lubuk hati Ibu, menimbulkan rasa nyeri yang aneh. Apakah aku sekejam itu? Batin Ibu. Ia hanya ingin anaknya aman. Ia telah melihat betapa kejamnya dunia luar bagi mereka yang tidak memiliki pijakan finansial yang kokoh. Namun, apakah caranya salah?
"Nanti di rumah, Ibu mau buatkan sup hangat untuk Mbak Alya," gumam Ibu dalam hati, sebuah bentuk rekonsiliasi bisu yang selalu ia lakukan setiap kali selesai bertengkar dengan anaknya.
Mobil berbelok memasuki jalur lingkar luar yang agak menurun. Jalanan di area ini terkenal licin saat hujan, ditambah dengan minimnya penerangan jika hari mendadak gelap. Ibu menginjak pedal rem perlahan untuk mengurangi kecepatan. Namun, di depan sana, lampu hazard sebuah truk besar mendadak menyala benderang. Truk itu mengerem mendadak karena menghindari genangan air yang terlalu dalam.
Ibu terkejut. "Astagfirullah!"