Waktu seolah kehilangan maknanya di dalam koridor rumah sakit ini. Detik jam dinding digital di atas ruang administrasi terus berganti. Namun bagi Alya, Raka, dan Ayah, setiap menit terasa seperti siksaan abadi yang ditarik ulur. Bau karbol yang menusuk hidung, dengung konstan dari mesin pendingin ruangan, dan derap langkah kaki para perawat yang terburu-buru menambah kecemasan yang memang sudah terasa mencekik.
Raka akhirnya tertidur karena kelelahan emosional. Kepalanya bersandar di paha Ayah dengan sisa air mata yang mengering di pipinya. Sementara Ayah tetap mematung. Matanya yang memerah menatap lurus ke lantai keramik putih. Tangannya sesekali bergerak mengelus rambut Raka, sebuah usaha naluriah untuk menenangkan anaknya—atau mungkin menenangkan dirinya sendiri.
Alya memilih berdiri di dekat jendela besar di ujung lorong. Gerimis di luar telah sepenuhnya berhenti, menyisakan genangan air yang memantulkan pendar pucat lampu jalanan kota yang mulai menyala. Sunyi. Namun di dalam kepala Alya, segalanya justru bising luar biasa.
Pikiran Alya terus berputar, kembali pada pukul tujuh pagi tadi.
“Ibu gak pernah mau dengerin penjelasan Alya. Ibu cuma mau Alya jadi robot yang ngikutin kemauan Ibu!”
Kalimat itu. Kalimat egois yang ia lontarkan dengan penuh amarah tepat di depan wajah Ibu. Alya mengingat dengan sangat jelas bagaimana binar di mata Ibu meredup saat mendengar kalimat itu. Ia mengingat bagaimana bahu wanita yang melahirkannya itu merosot turun, menahan beban luka yang digoreskan oleh anak kandungnya sendiri.
Kenapa aku harus sekeras kepala itu?
Alya meremas jemarinya sendiri hingga memutih. Rasa bersalah itu datang bergelombang, menghantam dadanya hingga ia merasa sesak dan mual. Jika saja pagi tadi ia memilih untuk menurunkan egonya, jika saja ia tersenyum dan mengiyakan perkataan Ibunya—meski hanya untuk sementara waktu demi menjaga kedamaian rumah—mungkin atmosfer hari ini akan berbeda. Mungkin Ibu tidak akan menyetir dengan pikiran bercabang. Mungkin kecelakaan ini tidak akan pernah terjadi.
"Al." Sebuah suara parau memecah lamunan hitam Alya.
Ayah memanggilnya. Alya menoleh dan mendapati Ayah sedang menatapnya dengan pandangan yang sarat akan kelelahan.
Alya melangkah mendekat, lalu duduk di kursi kosong di sebelah Ayah. Ia meraih tangan pria itu, merasakan betapa dinginnya telapak tangan yang biasanya selalu hangat dan kokoh itu. "Ayah ... Ayah sudah makan? Dari siang Ayah belum kemasukan apa-apa, kan?"
Ayah menggeleng pelan, memaksakan senyum tipis yang tampak sangat rapuh. "Ayah gak lapar, Al. Yang penting adikmu dulu ini. Nanti kalau Raka bangun, tolong temani dia ke kantin, ya."
"Ayah juga harus makan," bisik Alya, air matanya kembali menetes tanpa bisa ditahan. "Alya gak mau Ayah ikut sakit."
Ayah tidak menjawab. Beliau hanya membawa Alya ke dalam rangkulan satu lengannya, menarik kepala putrinya agar bersandar di bahunya. Di dalam keheningan itu, mereka berdua sama-sama tahu bahwa makanan adalah hal terakhir yang bisa melewati tenggorokan mereka saat ini. Hidup mereka sedang dipertaruhkan di balik pintu kaca buram itu.
***