Rumah nomor 14 di Kompleks Griya Asri belum pernah terasa seasing ini.
Atas saran Ayah, Alya dan Raka diminta pulang tengah malam tadi untuk beristirahat dan membersihkan diri, sementara Ayah tetap tinggal di rumah sakit menjaga Nisa dan menunggui Ibu di depan ruang ICU. Namun, bagi Alya, kembali ke rumah ini justru terasa seperti memasuki museum penuh hantu masa lalu yang siap menghakiminya.
Setiap sudut ruangan berteriak tentang kehadiran Ibu. Di dapur, celemek batik Ibu masih menggantung pasrah di dekat kompor. Di atas meja makan, piring nasi goreng yang urung dihabiskan pagi tadi masih berdiri di sana, mengering dan mendingin, menjadi saksi bisu kehangatan yang mendadak koyak.
Alya duduk sendirian di sofa ruang tengah. Jam di ponselnya menunjukkan pukul tiga pagi lewat sedikit. Raka sudah tumbang sejak satu jam lalu di kamar sebelah, tertidur dengan lelap yang dipaksakan oleh rasa lelah yang luar biasa.
Suasana malam itu hening, terlalu hening hingga desau angin yang menggesek daun-daun pohon mangga di halaman depan terdengar seperti bisikan yang menyayat. Hujan telah sepenuhnya reda sejak beberapa jam lalu, menyisakan hawa dingin yang perlahan menembus pori-pori kulit Alya, meski ia sudah membungkus tubuhnya dengan jaket rajut tebal milik Ibu yang sengaja ia ambil dari gantungan. Ia hanya ingin mencium aroma tubuh Ibunya—perpaduan antara minyak angin, detergen, dan sisa wangi masakan. Aroma yang selalu membuatnya merasa aman, aroma yang kini entah kapan bisa ia hirup lagi dari sosok aslinya.
Tiba-tiba, keheningan itu terusik oleh sesuatu yang ganjil.
Pet.
Lampu gantung di ruang tengah berkedip sekali. Pendarnya meredup, menguning, sebelum kembali terang. Alya menegakkan duduknya, matanya waspada menatap langit-langit.
Pet. Pet.
Dua kedipan lagi. Kali ini lebih lama. Seluruh perangkat elektronik di rumah itu seolah kehilangan dayanya secara perlahan. Dengung lemari es di sudut dapur yang biasanya konstan terdengar, mendadak mati. Kipas angin di pojok ruangan melambat hingga baling-balingnya berhenti berputar sepenuhnya. Rumah itu mendadak diselimuti kegelapan yang pekat, hanya menyisakan pendar samar dari luar jendela yang menembus gorden.
Alya merogoh sakunya, berniat mengambil ponsel untuk menyalakan senter. Namun, saat jarinya menyentuh layar, ponsel itu benar-benar mati total. Padahal, ia ingat betul daya baterainya masih berada di atas delapan puluh persen beberapa menit yang lalu.
Dalam kesunyian yang mencekam itu, telinga Alya menangkap sebuah kejanggalan lain.
Ada suara yang hilang. Sebuah suara latar yang sudah ia dengar sejak ia lahir di rumah ini.
Tik. Tik. Tik.