Gagang pintu kuningan itu berdecit pelan, bergerak turun dengan ritme yang teratur sebelum kunci slot bagian dalam berputar dengan bunyi klik pelan. Alya seolah kehilangan kemampuan untuk berteriak. Suaranya tercekat di tenggorokan, sementara matanya menatap nanar pada lembaran kayu jati yang perlahan-lahan terbuka lebar.
Udara dingin malam langsung berembus masuk, membawa serta sisa-sisa aroma tanah basah pasca-hujan. Namun, di atas semua itu, aroma bawang goreng dan tumisan cabai yang hangat kini tercium semakin pekat, mengalahkan bau apek dari rumah yang mati lampu.
Di ambang pintu, berlatarkan pendar remang lampu jalan kompleks, berdiri sesosok perempuan.
Jantung Alya berdentum begitu keras hingga telinganya berdengung. Siluet itu, postur tubuh itu, cara berdiri yang sedikit bertumpu pada kaki kanan—Alya tidak mungkin salah mengenalkannya. Belasan tahun hidup bersama membuat bentuk tubuh itu terpahat permanen dalam ingatan terdalamnya.
"I ... Ibu?" cicit Alya, suaranya nyaris berupa bisikan yang pecah.
Sosok itu melangkah maju melewati batas pintu, memasuki keremangan ruang tamu. Ketika cahaya samar dari luar menyinari wajahnya, Alya merasakan lututnya mendadak lemas. Itu memang Ibunya. Wajah keibuan dengan garis-garis halus di sekitar mata yang selalu tampak lelah tetapi teduh, senyum tipis yang akrab, dan sepasang mata bulat yang selalu menatapnya dengan penuh arti.
Akan tetapi, ada sesuatu yang berbeda. Sangat berbeda.
Perempuan itu tidak mengenakan daster batik andalannya, bukan pula pakaian yang dipakainya saat pergi menjemput Nisa siang tadi. Beliau mengenakan kemeja rapi yang dibalut oleh jas putih panjang khas dokter—bersih, licin tanpa kusut, dan tampak begitu pas di tubuhnya. Rambutnya yang biasa dicepol asal dengan jepitan badai, kini tersanggul rapi dan profesional. Hebatnya lagi, tidak ada satu pun bekas luka, darah, atau trauma kecelakaan yang tersisa di tubuhnya. Beliau tampak ... utuh. Sangat sehat, bahkan memancarkan ketenangan yang belum pernah Alya lihat sebelumnya.
"Alya." Suara itu keluar dari bibirnya. Lembut, jernih, dan membawa kehangatan yang langsung meruntuhkan seluruh pertahanan ego Alya. "Kenapa belum tidur? Ini sudah larut sekali, Nak."
"Ibu ... Ibu benar-benar Ibu? Alya gak mimpi?" Air mata Alya tumpah seketika. Tanpa memedulikan keganjilan jas dokter yang dikenakan ibunya atau bagaimana cara beliau bisa pulang dari ruang ICU tanpa kendaraan, Alya langsung menghambur maju. Ia memeluk tubuh itu erat-erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang yang dilapisi kain jas putih yang terasa agak kaku tetapi hangat.
Ibu membalas pelukan itu. Tangannya bergerak lembut, mengelus punggung Alya dengan gerakan naik-turun yang selalu berhasil menenangkannya sejak kecil. "Iya, ini Ibu. Maaf ya, Ibu pulangnya agak terlambat."