Kehangatan yang baru saja merayap di ruang tengah rumah itu mendadak membeku.
Alya masih bisa merasakan sisa kehangatan dari jemari Ibu yang menangkup pipinya, dan Raka masih bersandar nyaman di pundak perempuan berjas dokter itu. Namun, atmosfer di dalam ruangan berubah secara drastis ketika sebuah suara ketukan kembali terdengar dari arah pintu depan yang rupanya masih sedikit terbuka.
Tok. Tok. Tok.
Ketukan kali ini tidak keras, tetapi memiliki ketukan yang konstan dan ritmis. Berbeda dengan ketukan penuh urgensi pada jam 03.17 tadi, ketukan ini terdengar lebih santai. Seolah si pengetuk tahu betul bahwa kehadirannya akan mengejutkan seisi rumah.
Alya melepaskan pandangannya dari Ibu berjas dokter, menoleh ke arah ruang tamu dengan kening berkerut. "Ayah?" tanyanya ragu. Tapi nalurinya menolak. Langkah kaki yang terdengar setelah ketukan itu terlalu ringan untuk menjadi langkah kaki Ayah yang berat dan lelah.
Sesosok perempuan melangkah masuk melewati remang ruang tamu, langsung menuju pendar cahaya kuning ruang tengah.
Raka langsung menegakkan tubuhnya. Alya membeku di tempat, sementara napasnya seolah tertahan di tenggorokan.
Perempuan yang baru masuk itu berdiri beberapa langkah di depan mereka. Ia mengenakan celana kulot kain yang longgar dipadukan dengan blus linen berwarna terakota yang estetik—potongan pakaian yang sangat khas dengan selera pameran seni atau peluncuran buku. Rambutnya dipotong bob pendek yang rapi, bertengger sebuah kacamata berbingkai bulat hitam di atas hidungnya.
Akan tetapi, yang membuat bulu kuduk Alya berdiri adalah wajahnya.
Wajah itu memiliki struktur yang sama persis. Garis rahangnya, bentuk hidungnya, hingga tahi lalat kecil di dekat sudut alis kirinya. Ia adalah Ibu. Wajah perempuan yang melahirkannya.