Malam yang ganjil itu belum selesai menguji akal sehat Alya dan Raka. Sebelum mereka sempat mencerna kehadiran perempuan kedua, atmosfer di dalam rumah nomor 14 kembali bergeser. Udara mendadak terasa padat, dipenuhi oleh aroma yang campur aduk. Wangi parfum mahal yang elegan, bau tanah basah pasca-hujan yang segar, hingga aroma minyak angin yang sangat akrab di indra penciuman mereka.
Satu per satu, seolah keluar dari lipatan kabut malam yang menembus pintu depan, perempuan-perempuan lain melangkah masuk ke dalam ruang tengah.
Ketika pendar lampu kuning yang berkedip itu akhirnya menstabilkan cahayanya, Alya merasakan seluruh persendiannya meloloskan kekuatannya. Di sekeliling meja makan, kini berdiri tujuh orang perempuan dengan wajah yang sama persis. Garis wajah, bentuk mata, hingga struktur rahang mereka identik. Namun, mereka mengenakan pakaian, gaya rambut, dan memancarkan aura kehidupan yang sepenuhnya berbeda.
Tujuh versi dari satu nama. Ratri.
Di sudut dekat rak buku, Ibu Dokter berdiri tegak dengan jas putihnya yang rapi. Wajahnya tenang, matanya menatap tajam dan penuh analisa.
"Secara medis dan logika, situasi ini tidak masuk akal," ucapnya dengan nada suara yang datar dan teratur. "Namun, tanda-tanda vital kalian berdua menunjukkan stres berat. Raka, detak jantungmu terlalu cepat. Alya, pupil matamu melebar. Kita harus menyikapi ini dengan kepala dingin."
Di seberangnya, Ibu Penulis yang berblus terakota tampak menyandarkan tubuhnya di pinggiran meja makan. Ia menatap kedua anaknya dengan pandangan melankolis.
"Ini seperti bab klimaks dari sebuah novel realisme magis yang tragis," bisiknya dengan nada romantis yang mendalam. "Takdir sedang mempermainkan kita, anak-anakku. Pertengkaran kita pagi tadi ... ah, itu adalah katalisator dari kerinduan yang memecah semesta menjadi tujuh bagian cinta."
"Cinta tidak butuh narasi yang bertele-tele, Ratri." Sebuah suara bariton yang tegas dan penuh wibawa memotong.
Alya menoleh dan mendapati seorang perempuan berwajah Ibu yang mengenakan setelan blazer tenun formal berwarna biru gelap yang sangat elegan. Rambutnya disanggul modern tanpa cela. Ia adalah Ibu Politikus. Auranya begitu karismatik dan dominan, membuat Raka refleks berdiri lebih tegak.
"Sebagai ibu kalian, aku menuntut penjelasan dari situasi ini. Tapi sebelum itu, prioritaskan keselamatan. Raka, Alya, kalian berdua berada di bawah perlindunganku sekarang. Tidak ada yang boleh menyakiti kalian di rumah ini," tegasnya, seolah sedang memberikan titah kenegaraan.
Tiba-tiba, sebuah kekeh pelan yang terdengar dingin menjalar di ruangan. Di dekat bayangan koridor, Ibu Penjahat berdiri dengan gaun hitam satin yang pas di tubuh. Senyumnya miring, matanya yang tajam berkilat penuh tipu daya yang manipulatif.