Tujuh Versi Ibu

Miska Tsabitha Fikri
Chapter #8

Penjaga Kemungkinan

Kriing! Kriing!

Suara dering telepon rumah membelah ketegangan di ruang tengah, menghancurkan keheningan yang tercipta di antara Alya, Raka, dan ketujuh perwujudan Ibu. Nada dering itu terdengar begitu nyaring, membawa getaran kegentingan yang membuat bulu kuduk Alya meremang.

Alya melirik ketujuh wanita di sekelilingnya. Tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak. Ibu Sejati hanya menatap gagang telepon dengan dahi berkerut, sementara Ibu Dokter melihat ke arah kompor dengan ekspresi yang dingin.

Dengan tangan yang gemetar hebat, Alya melangkah melewati Ibu Penjahat yang melempar senyum penuh teka-teki, lalu mengangkat gagang telepon kuningan itu. "Ha-halo?"

"Alya … " Suara Ayah di seberang sana terdengar sangat panik. Ada isakan dan kemarahan yang tertahan. "Alya ... ada yang aneh, Nak. Sekitar jam satu tadi Ayah ingin menanyakan keadaan Ibu kepada perawat jaga. Tapi …"

Jantung Alya serasa berhenti berdetak. Ia sangat takut mendengar kemungkinan apa yang akan dikatakan oleh ayahnya. Lebih menyeramkan lagi, ketujuh Ibu juga menatapnya seolah menanti kepastian.

“Tapi apa, Yah?” bisik Alya, suaranya tercekat.

“Perawat bilang tidak ada pasien bernama Ratri Nastiti. Ayah sampai memastikan ulang semuanya, termasuk Nisa. Tapi, mereka bersikeras bahwa memang tidak ada … tidak ada Ibu di sini, seolah Ibu tidak pernah masuk kesini. Datanya tidak ada! Mereka bilang, rekam medis yang ada hanyalah Nisa sebagai pasien tabrak lari saat naik sepeda. Ini … ini gila! Ayah harus lapor polisi …”

“Yah,” potong Alya, ragu. “Tapi, ini Ibu … Ibu ada di rumah.”

Di seberang, suara Ayah tidak menyahut. Hanya ada suara roda brankar yang melewati lorong. Sejenak kemudian, Ayah menjawab dengan suara yang tajam.

“Maksud kamu apa, Nak? Jangan bercanda! Ayah sudah lelah sekali dengan semua keanehan ini, kamu jangan mengada-ada. Ayah tahu Ibu kritis, tidak mungkin bisa pulang sendiri. Tidak pantas kamu menjadikan ini sebagai candaan.”

“Tapi Alya gak bohong, Yah,” jerit Alya, terisak keras. “Ibu … Ibu di sini. Tapi …”

Belum sempat Alya menyebutkan keganjilan yang juga terjadi di rumah, Ayah sudah memotongnya.

“Kamu dan Raka tunggu Ayah, Ayah pulang sekarang. Kalau memang yang kamu bilang benar, suruh Ibu tunggu di situ, jangan kemana-mana!” 

Lihat selengkapnya