Paginya, semua berjalan seperti sebuah mimpi buruk yang bising. Rumah nomor 14 tidak pernah sepadat ini. Suara langkah kaki yang tumpuk-menumpuk, denting sendok dari dapur, hingga gumaman puitis dan analisis medis bersahutan di bawah satu atap.
Ayah duduk di kursi kepala meja makan, tempat yang biasanya menjadi takhta ketenangannya. Namun pagi ini, wajah pria paruh baya itu tampak sepuluh tahun lebih tua. Lingkar hitam menggelayuti matanya yang cekung, dan tangannya yang diletakkan di atas meja kayu terus meremas selembar kertas putih kosong.
Di dapur, Ibu Miskin dan Ibu Sejati sibuk berebut tempat di depan kompor. Ibu Miskin ingin membuat sup hangat yang sederhana, sementara Ibu Sejati bersikeras menggoreng telur dadar kesukaan Raka. Di ruang tengah, Ibu Penulis sibuk mengetik sesuatu di laptop tua milik Alya, sesekali mendesah romantis menatap jendela.
Sementara itu, Ibu Politikus duduk di meja makan bersama Ayah, mencoba mendiskusikan masalah keuangan keluarga dan biaya rumah sakit Nisa dengan nada bicara yang sangat terstruktur dan tegas, membuat Ayah hanya bisa memijat pelipisnya karena pusing.
Alya memandang ke sekeliling rumahnya yang kini riuh oleh suara tujuh perwujudan Ibunya. Alya meremas jaket rajut Ibu yang masih dipakainya. Di satu sisi, rasa kehilangannya tersamarkan karena sosok Ibu yang masih ada di depan mata. Namun di sisi lain, teror yang nyata baru saja dimulai. Bagaimana mereka bisa hidup normal dengan tujuh orang ibu, sementara ibu yang asli entah berada di mana?
"Cukup." Suara bariton Ayah memecah kebisingan. Tidak keras, tetapi getaran ketegasan di dalamnya langsung membuat ruangan itu senyap seketika.
“Selama kalian berada di rumah ini, dan selama saya belum menemukan istri saya yang asli, kalian harus mengikuti aturan saya." Ayah mengetukkan jarinya ke meja, menetapkan titah yang tidak bisa diganggu gugat.
"Aturan pertama." Ayah menatap tajam ketujuh wanita itu bergantian. "Kalian semua tidak boleh keluar dari rumah ini maupun terlihat oleh tetangga dan kerabat. Saya ingin semua kegilaan ini tetap menjadi rahasia di dalam rumah ini saja. Saya tidak ingin ada kegemparan dibawa ke luar sana."
Ibu Sejati mendesah lega, mengelus daster batiknya. "Tentu, Ayah. Memangnya ke mana lagi aku harus pergi? Ini rumahku."
"Aturan kedua." Potong Ayah cepat, suaranya mengeras, memotong kalimat Ibu Sejati. "Mulai detik ini, tidak ada satu pun dari kalian yang boleh menyebut diri kalian sebagai 'Ibu Asli' di depan anak-anak. Dan kalian, Alya, Raka! Tidak boleh memanggil salah satu dari mereka dengan sebutan 'Ibu' atau semacamnya."